Pages

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Showing posts with label INDONESIA Cerita. Show all posts
Showing posts with label INDONESIA Cerita. Show all posts

Feb 11, 2012

Segelas susu

Suatu hari, seorang anak lelaki miskin yang hidup darimenjual asongan dari pintu ke pintu,
menemukan bahwa dikantongnya hanya tersisa beberapasen uangnya, dan dia sangat lapar.
Anak lelaki tersebut memutuskan untuk meminta makanandari rumah berikutnya.
Akan tetapi anak itu kehilangan keberanian saatseorang wanita muda membuka pintu rumah.
Anak itu tidak jadi meminta makanan, ia hanya beranimeminta segelas air.
Wanita muda tersebut melihat, dan berpikir bahwa anaklelaki tersebut pastilah lapar,
oleh karena itu ia membawakan segelas besar susu.
Anak lelaki itu meminumnya dengan lambat, dan kemudianbertanya,
"berapa saya harus membayar untuk segelas besar susuini ?"
Wanita itu menjawab:
"Kamu tidak perlu membayar apapun".
"Ibu kami mengajarkan untuk tidak menerima bayaranuntuk kebaikan" kata wanita itu menambahkan.
Anak lelaki itu kemudian menghabiskan susunya danberkata :" Dari dalam hatiku aku berterima kasih padaanda."
Sekian tahun kemudian, wanita muda tersebut mengalamisakit yang sangat kritis. Para dokter dikota itu sudahtidak sanggup menganganinya.
Mereka akhirnya mengirimnya ke kota besar, dimanaterdapat dokter spesialis yang mampu menanganipenyakit langka tersebut.
Dr. Howard Kelly dipanggil untuk melakukanpemeriksaan. Pada saat ia mendengar nama kota asal siwanita tersebut,
terbersit seberkas pancaran aneh pada mata dokterKelly.
Segera ia bangkit dan bergegas turun melalui hallrumahsakit, menuju kamar si wanita tersebut.
Dengan berpakaian jubah kedokteran ia menemui siwanita itu.
Ia langsung mengenali wanita itu pada sekalipandang.Ia kemudian kembali ke ruang konsultasi dan memutuskanuntuk melakukan upaya terbaik
untuk menyelamatkan nyawa wanita itu. Mulai hari itu,Ia selalu memberikan perhatian khusus pada kasuswanita itu.
Setelah melalui perjuangan yang panjang, akhirnyadiperoleh kemenangan.. . Wanita itu sembuh !!.
Dr. Kelly meminta bagian keuangan rumah sakit untukmengirimkan seluruh tagihan biaya pengobatan kepadanyauntuk persetujuan.
Dr. Kelly melihatnya, dan menuliskan sesuatu padapojok atas lembar tagihan, dan kemudian mengirimkannyake kamar pasien.
Wanita itu takut untuk membuka tagihan tersebut, iasangat yakin bahwa ia tak akan mampu membayar tagihantersebut walaupun harus dicicil
seumur hidupnya.
Akhirnya Ia memberanikan diri untuk membaca tagihantersebut, dan ada sesuatu yang menarik perhatiannyapada pojok atas lembar tagihan tersebut.
Ia membaca tulisan yang berbunyi..
"Telah dibayar lunas dengan segelas besar susu.."
tertanda, DR Howard Kelly.
Air mata kebahagiaan membanjiri matanya. Ia berdoa :"Tuhan, terima kasih, bahwa cintamu telah memenuhiseluruh bumi melalui hati dan tangan manusia"


Nov 6, 2011

PERUBAHAN INDONESIA




131676563260376270
Yang manakah yang terpenting antara sumber daya alam (SDA) dan sumber daya manusia (SDM)? Jika kita melihat-lihat keadaan dunia, jelas jawabannya adalah SDM. Contohnya tidak jauh, yaitu negara kita, Indonesia, sangat kaya dengan SDA, tetapi bukan negara maju, yakni negara berkembang. Sedangkan negara-negara maju SDAnya terbatas, tetapi bisa menjadi negara maju.
Mengapa keadaan ini bisa terjadi? Karena negara maju sadar akan keterbatasannya dan dengan begitu mereka sadar bahwa mereka harus bekerja keras untuk mengimbangi keterbatasannya. Mungkin saja, karena mereka mengingat keterbatasannya, mereka tidak mau mempunyai banyak anak, banyak pula yang tidak mempunyai anak. Karena keterbatasan itu, mereka membangkitkan SDM mereka. Jadilah SDM mereka begitu kreatif, dengan menciptakan bola lampu, pesawat, radio, televisi, dan sebagainya. Penemuan itu berusaha mereka temukan karena keterbatasan dan kesulitan, mereka menginginkan hidup yang lebih mudah.
Penemuan mereka itu bermanfaat besar bagi umat manusia. Manusia pun semakin bergantung kepada penemuan mereka sehingga mereka mengeluarkan daya beli mereka untuk dapat menggunakan penemuan tersebut. Akhirnya, penemu-penemu itu menjadi kaya karena hasil penemuan mereka digunakan oleh banyak orang. Semakin hari hidup menjadi semakin mudah karena manusia terus berkreativitas untuk menemukan produk-produk yang dapat mempermudah kehidupan manusia.
Bagaimana dengan SDM Indonesia? Kalau saja SDM Indonesia mengikuti langkah yang ditempuh oleh negara maju, pasti negara ini menjadi negara yang hampir sempurna, karena kaya dengan SDA dan SDM. Tulisan ini dibuat bukan untuk meremehkan Indonesia, tetapi untuk membangkitkan SDM Indonesia untuk dapat mencontoh atau bahkan lebih baik daripada SDM negara maju. Tentu saja ada juga yang dapat dibanggakan dari Indonesia. Seni budaya yang begitu kuat, pariwisata, dan kuliner adalah contohnya. Batik yang telah diakui dunia dan rendang yang telah mendapat predikat sebagai makanan terlezat di dunia adalah salah satu kebanggaan kita sebagai bangsa Indonesia.
Akan tetapi, ada beberapa hal yang terasa ironi jika kita lihat. Produk Indonesia, seperti produk kulit tidak laku dipasarkan di Indonesia sendiri karena sebagian besar rakyat Indonesia adalah “luar negeri-oriented”. Produk-produk tersebut harus diekspor ke luar negeri terlebih dahulu hanya untuk dilabeli label luar negeri, kemudian diimpor kembali oleh Indonesia dan barang tersebut baru laku di Indonesia. Sungguh menyedihkan keadaan ini. Ada lagi contoh ironi lainnya, yaitu bangsa ini menjadi pekerja di sebuah perusahaan yang mengekploitasi SDA yang ada di negaranya sendiri. Bangsa ini menjadi sebuah bangsa pencari upah di negeri yang sangat kaya ini. Bangsa ini menjadi negara miskin di negaranya sendiri yang sekali lagi sangat kaya ini. Sekali lagi, sungguh menyedihkan keadaan ini. Contoh ironi yang terakhir adalah begitu banyaknya SDM Indonesia yang kreatif yang tinggal di luar negeri. Contohnya di bidang animasi, banyak SDM Indonesia yang ikut membersarkan industri animasi negara lain. Mereka lebih memilih tinggal di luar negeri, mungkin karena mereka kurang dihargai jika di Indonesia.
Bagaimana agar kita bisa lepas dari keadaan ini? Bisakah kita berubah. Tidak ada yang tidak bisa di dunia ini, kecuali Qadar dari Allah SWT. Saya merasa Indonesia bisa berubah, bahkan dalam waktu yang relatif singkat, yaitu dengan PENDIDIKAN. Pendidikan dibutuhkan untuk membuat manusia menjadi cerdas dan berpengetahuan banyak. Contoh pendidikan yang paling dasar adalah membaca, menulis, dan berhitung. Hanya dengan membaca dan menulis, seseorang dapat menjadi penulis. Terlebih jika mereka terus belajar sampai tingkat yang tertinggi, maka banyak peluang untuk profesi mereka yang lebih baik, tidak hanya mencari upah. Tentu saja hal ini harus didukung oleh pemerintah dan seluruh rakyat Indonesia. Banyak orang miskin yang tidak mampu untuk membiayai anaknya sekolah. Seharusnya Pemerintah mendukungnya dengan memberikan keringanan biaya atau membebaskan biaya sekolah bagi rakyat yang tidak mampu. Tetapi, yang terjadi malah berlawanan. Mulai tingkat SD saja, uang pangkal masuk sekolah sudah tinggi. Jika begini keadaannya, bagaimana SDM Indonesia bisa berubah?
Mungkin Anda bertanya-tanya mengenai orang pintar yang setelah bekerja akhirnya menjadi koruptor. Menurut saya orang-orang pintar tersebut juga kurang pendidikan, yaitu pendidikan agama. Jika pendidikan agama diberikan sejak kecil dan terus kuat hingga dewasa, saya rasa manusia menjadi takut akan Tuhan dan takut untuk berbuat dosa. Mereka akan takut dan tidak akan tergoda oleh suasana yang membawanya untuk berbuat dosa.
Pendidikan tidak hanya di dapatkan di sekolah. Kita juga bisa mendapatkan pendidikan dari lingkungan kita, pergaulan, atau pengalaman hidup kita. Jika kita berbuat kesalahan, kita seharusnya belajar dari pengalaman tersebut dengan tidak mengulanginya. Kemudian, pilihlah pergaulan yang baik dengan dengan orang-orang yang baik dan bersemangat tinggi. Dengan mengembangkan pendidikan, saya harap Indonesia dapat memiliki SDM yang kreatif dan terampil dan dapat membawa Indonesia ke arah yang lebih baik.

PERUBAHAN INDONESIA



131676563260376270
Yang manakah yang terpenting antara sumber daya alam (SDA) dan sumber daya manusia (SDM)? Jika kita melihat-lihat keadaan dunia, jelas jawabannya adalah SDM. Contohnya tidak jauh, yaitu negara kita, Indonesia, sangat kaya dengan SDA, tetapi bukan negara maju, yakni negara berkembang. Sedangkan negara-negara maju SDAnya terbatas, tetapi bisa menjadi negara maju.
Mengapa keadaan ini bisa terjadi? Karena negara maju sadar akan keterbatasannya dan dengan begitu mereka sadar bahwa mereka harus bekerja keras untuk mengimbangi keterbatasannya. Mungkin saja, karena mereka mengingat keterbatasannya, mereka tidak mau mempunyai banyak anak, banyak pula yang tidak mempunyai anak. Karena keterbatasan itu, mereka membangkitkan SDM mereka. Jadilah SDM mereka begitu kreatif, dengan menciptakan bola lampu, pesawat, radio, televisi, dan sebagainya. Penemuan itu berusaha mereka temukan karena keterbatasan dan kesulitan, mereka menginginkan hidup yang lebih mudah.
Penemuan mereka itu bermanfaat besar bagi umat manusia. Manusia pun semakin bergantung kepada penemuan mereka sehingga mereka mengeluarkan daya beli mereka untuk dapat menggunakan penemuan tersebut. Akhirnya, penemu-penemu itu menjadi kaya karena hasil penemuan mereka digunakan oleh banyak orang. Semakin hari hidup menjadi semakin mudah karena manusia terus berkreativitas untuk menemukan produk-produk yang dapat mempermudah kehidupan manusia.
Bagaimana dengan SDM Indonesia? Kalau saja SDM Indonesia mengikuti langkah yang ditempuh oleh negara maju, pasti negara ini menjadi negara yang hampir sempurna, karena kaya dengan SDA dan SDM. Tulisan ini dibuat bukan untuk meremehkan Indonesia, tetapi untuk membangkitkan SDM Indonesia untuk dapat mencontoh atau bahkan lebih baik daripada SDM negara maju. Tentu saja ada juga yang dapat dibanggakan dari Indonesia. Seni budaya yang begitu kuat, pariwisata, dan kuliner adalah contohnya. Batik yang telah diakui dunia dan rendang yang telah mendapat predikat sebagai makanan terlezat di dunia adalah salah satu kebanggaan kita sebagai bangsa Indonesia.
Akan tetapi, ada beberapa hal yang terasa ironi jika kita lihat. Produk Indonesia, seperti produk kulit tidak laku dipasarkan di Indonesia sendiri karena sebagian besar rakyat Indonesia adalah “luar negeri-oriented”. Produk-produk tersebut harus diekspor ke luar negeri terlebih dahulu hanya untuk dilabeli label luar negeri, kemudian diimpor kembali oleh Indonesia dan barang tersebut baru laku di Indonesia. Sungguh menyedihkan keadaan ini. Ada lagi contoh ironi lainnya, yaitu bangsa ini menjadi pekerja di sebuah perusahaan yang mengekploitasi SDA yang ada di negaranya sendiri. Bangsa ini menjadi sebuah bangsa pencari upah di negeri yang sangat kaya ini. Bangsa ini menjadi negara miskin di negaranya sendiri yang sekali lagi sangat kaya ini. Sekali lagi, sungguh menyedihkan keadaan ini. Contoh ironi yang terakhir adalah begitu banyaknya SDM Indonesia yang kreatif yang tinggal di luar negeri. Contohnya di bidang animasi, banyak SDM Indonesia yang ikut membersarkan industri animasi negara lain. Mereka lebih memilih tinggal di luar negeri, mungkin karena mereka kurang dihargai jika di Indonesia.
Bagaimana agar kita bisa lepas dari keadaan ini? Bisakah kita berubah. Tidak ada yang tidak bisa di dunia ini, kecuali Qadar dari Allah SWT. Saya merasa Indonesia bisa berubah, bahkan dalam waktu yang relatif singkat, yaitu dengan PENDIDIKAN. Pendidikan dibutuhkan untuk membuat manusia menjadi cerdas dan berpengetahuan banyak. Contoh pendidikan yang paling dasar adalah membaca, menulis, dan berhitung. Hanya dengan membaca dan menulis, seseorang dapat menjadi penulis. Terlebih jika mereka terus belajar sampai tingkat yang tertinggi, maka banyak peluang untuk profesi mereka yang lebih baik, tidak hanya mencari upah. Tentu saja hal ini harus didukung oleh pemerintah dan seluruh rakyat Indonesia. Banyak orang miskin yang tidak mampu untuk membiayai anaknya sekolah. Seharusnya Pemerintah mendukungnya dengan memberikan keringanan biaya atau membebaskan biaya sekolah bagi rakyat yang tidak mampu. Tetapi, yang terjadi malah berlawanan. Mulai tingkat SD saja, uang pangkal masuk sekolah sudah tinggi. Jika begini keadaannya, bagaimana SDM Indonesia bisa berubah?
Mungkin Anda bertanya-tanya mengenai orang pintar yang setelah bekerja akhirnya menjadi koruptor. Menurut saya orang-orang pintar tersebut juga kurang pendidikan, yaitu pendidikan agama. Jika pendidikan agama diberikan sejak kecil dan terus kuat hingga dewasa, saya rasa manusia menjadi takut akan Tuhan dan takut untuk berbuat dosa. Mereka akan takut dan tidak akan tergoda oleh suasana yang membawanya untuk berbuat dosa.
Pendidikan tidak hanya di dapatkan di sekolah. Kita juga bisa mendapatkan pendidikan dari lingkungan kita, pergaulan, atau pengalaman hidup kita. Jika kita berbuat kesalahan, kita seharusnya belajar dari pengalaman tersebut dengan tidak mengulanginya. Kemudian, pilihlah pergaulan yang baik dengan dengan orang-orang yang baik dan bersemangat tinggi. Dengan mengembangkan pendidikan, saya harap Indonesia dapat memiliki SDM yang kreatif dan terampil dan dapat membawa Indonesia ke arah yang lebih baik.

INGIN MENULIS

By: Romald Kahardi

Aku Harus mulai dari mana? Kata apa yang menjadi ikon pembuka untuk meretas jalan menuju mengalirnya ide untuk dituangkan dalam menulis? Susah juga ya menuangkan ide diatas sebuah kertas atau di layar monitor komputer. Aku harus bisa! Kenapa yang lain bisa. Ala bisa karena biasa. jangan berhenti menulis dan menulis! Jangan cepat putus asa! Baca yang banyak. Membaca adalah alat dan obat mujarap untuk mengurai pikiran. Okay... Good job!

Saking pinginnya menulis, aku memilih topik ini dan menjadikanya judul tulisanku kali ini di Blogku. siapa tahu, berawal dari curahan hati dan keinginanku untuk menulis ini menjadi pintu masuk menuju kreativitas menulis. Aku pikir kalau hanya sekedar pingin menulis dan tidak direalisasikan percuma saja.

Kadang aku memikirkan terlalu rumit tentang apa yang harus ditulis.... Temanya apa, mulai dari mana dan bahanya dari mana????? ya, banyak nanyanya.....! aneh dan lucu juga ya....? mengeritik diri sendiri dan berkomunikasi dengan diri....! TIdak apa-apa yang penting demi sebuah cita-cita dan sebuah obsesi untuk menjadi penulis. Menjadi pribadi yang kreatif dan tidak membuang-bunag waktu hanya sekedar untuk menghayal dan bertanya diri tentang bagaimana caranya menjadi seorang penulis. cita-cita dan obsesi yang hebat kan.......!

Siapa tahu, ada yang baca dan beri komentar...... tentang apa yang aku tulis ini. Geer amat sih gw.....! Jadi orang itu harus Pede! Di sini aku ngerumpi dengan diri sendiri....!!! AkuIngin menjadi Penulis hebat! Sudah cukup lama aku mengimpikannya tapi kadang aku tidak menggubrisnya. Banyak waktu terbuang.... Atau hanya sebatas wacana, sebatas "akan" menulis. Aku tetap yakin dengan kemampuan yang ada dalam diriku bahwa aku bisa menulis dan menuis dengan baik.

Aku pernah membaca dari berbagai literatur tentang berbagaimacam cara, teknik, serta jalan untuk menjadi penulis. Ada yang bilang harus ada kemauan dan niat untuk menulis, menulis harus fokus, banyak-banyak membaca dan jangan buang-buag kesempatan dan ide, Kalau ada ide langsung buka lebtop atau kertas dan tulis!!! Cara terbaik untuk bisa menjadi penulis adalah dengan menulis! Selain itu membaca adalah pintu menuju kesuksesan untuk menulis! Benar juga sih..... saya diperkaya dengan ilmu yang terdapat dalam buku-buku atau literatur yang saya baca. Jangan berhenti membaca kalau ingin menjadi penulis! so jangan hanaya sebatas pingin tapi laksanakan dengan segera!!!! selamat mneulis! hebatkan Gw!!!! tak terasa aku telah membuat sebuah tulisan dalam sekejab!! AKU BISA MENULIS!

Oct 11, 2011

Mungkin Nanti

“Cobalah Sas, untuk pacaran,” terngiang-ngiang ucapan Lando tempo hari ketika kami sama-sama melakukan liputan jelajah pulau ke Subang Mas.
Aku tertawa kecil mengingatnya. Oke Lando, mungkin sebentar lagi akan ada berita dariku sesuai dengan permintaanmu dulu. Aku, seorang Saskia, akan segera mengakhiri kesendirian yang kujaga selama ini.
Yup, hingga usiaku yang hampir melewati seperempat abad, di zaman yang sudah melewati angka 2000, mungkin jarang ada orang percaya bila masih ada seorang wanita yang belum pernah pacaran sekalipun di usia sejauh itu. Tapi itu memang benar adanya terjadi padaku.
Kucermati bayangan tubuhku dalam pantulan cermin. Mengoreksi detail demi detail bagian wajah, tubuh, dan penampilan total diriku. Kadang geli juga. Ku akui aku tak pernah sebegini heboh mempersiapkan diriku demi apapun itu. Bahkan pada hari pernikahan adikku sekalipun.
Senyum kecilku mengembang bila teringat bagaimana terkejutnya Lando mengetahui hal itu.
“Apa, adikmu malah sudah nikah duluan?!” Lando sempat tak percaya saat kuceritakan tentang adikku yang sudah menikah lebih dulu beberapa bulan yang lalu. “Bukannya dalam adat Jawa itu katanya pamali?” ujar pria kelahiran Manado yang kini menjadi partnerku sebagai kameramen selama liputan jelajah pulau.
Aku cuma tertawa. “Terus salahnya dimana? Lha kalau memang dia yang lebih dulu diberi rezeki jodoh, masa iya mau aku tahan. Demi sebuah kepercayaan, kalau adik cowok melangkahi kita sebagai kakak perempuan, kitanya yang akan seret jodoh?!” aku mengibaskan tanganku.
Masih ku ingat tatapan takjub sosok yang menjadi sahabat karibku sejak ia dan aku sama-sama bekerja di sebuah stasiun televisi lokal Batam. “Tapi lihat sekarang Ndo, sebentar lagi akan ada yang berubah,” gumamku sendirian sembari berlalu, mengakhiri acara dandanku.
Malam ini mungkin menjadi malam yang istimewa untukku. Beberapa kilometer dari tempatku berpijak sekarang, beberapa menit dari detik ini, aku akan mengiyakan permintaan seorang cowok yang telah begitu lama menantiku.
“Sampai kapan Saski, sampai berapa kali aku harus meminta kesedianmu,” wajah putus asa Roni masih tersimpan dalam memoriku. Lelaki itu kukenal awalnya sebagai narasumberku. Namun ternyata perkenalan kami berlanjut hingga pertemanan yang memunculkan simpati dirinya untukku.
Dan saat itu aku cuma termenung bingung. Begitu besar keyakinanku untuk terus sendiri. Namun aku pun teringat betapa banyak diskusi yang telah kulakukan dengan Lando hingga harapannya agar aku segera memiliki pasangan terjadi.
Wajah Roni kala itu masih menatap harap. “Yang terakhir Saski, setelah itu okelah, aku tidak akan mengganggumu lagi. Tiga hari lagi, Sabtu malam nanti, aku ajak kamu untuk dinner di Restoran Sanur. Jika kamu memang memenuhi harapanku, pergilah bersamaku. Jika tidak, aku akan menyerah untuk tidak akan mengusikmu dengan pertanyaan ini lagi. Bagaimana?”
Mataku mengerjap-kerjap. Tak bisakah kita berjalan bersama tanpa adanya ini? Sama halnya seperti kedekatanku dengan Lando yang tak mengharapkan pamrih apapun. Tapi… “Oke, tidak perlu engkau jemput. Aku akan sendiri. Tapi jika aku tak datang, masih kumohon anggaplah aku sebagai temanmu. Meski aku tidak bisa memenuhi harapanmu untuk mengikat kasih.”
Ku buka pintu mobil dan bersiap duduk di belakang setir. Sekilas terlihat olehku bayangan wajahku masih nampak legam akibat sunburn. Memang baru minggu lalu aku mendapat tugas liputan dengan Lando ke Pulau Subang Mas. Dan ternyata kelam di wajahku masilah belum sempurna pulih. Begitu juga ingatanku akan cerita Mak Zizah, ibu RW tempat kami menginap selama liputan jelajah pulau di Kepulauan Riau.
“Suami Mamak dulu sebetulnya bukan Pak Along yang kalian kenal sekarang ini. Ini suami kedua mamak. Mamak dulu pernah cerai,” aku Mak Zizah.
Aku terkejut. Di zaman dulu seperti itu, di pulau yang belum begitu tersentuh moderenisasi seperti daerah lain ini, sudah adakah yang namanya perceraian? Wah… wah…, aku takjub.
“Iye, Mak punye cerite macem gini, dulu Mamak dijodohin same orangtue Mamak. Namanye anak, ya Mamak ini nurut saje. Mamak tak kenal calon suami Mamak siape, pokoknye Mamak diminta nikah. Yah, tapi itulah kalau kite tak tahu baik siape jodoh kite. Ternyata, suami Mamak itu kejam kali sama Mamak. Huh, habislah Mamak sering dipukulnye,” cerita Mamak.
Wanita yang sudah berusia setengah abad itu lalu meneruskan ceritanya. “Ade teman Mamak beri tahu, lebih baik Mamak cerai saje. Mamak pikir, benar juge tak ape, Mamak masih mude. Buat ape Mamak sengsare lame sama orang tak beri sayang Mamak.”
Aku mengernyitkan alis. “Ih Mak, Saski pikir zaman dulu tak ada lho yang namanya orang cerai. Aku pikir semua orang itu rukun-rukun hidupnya walaupun nikah hasil dijodohkan orang tua.” Manalagi aku selalu berpikir tidak akan mau pacaran dan bahkan, terbersit juga keinginan untuk tidak menikah.
“Ah, siape nak cakap macem gitu. Makanya kalau bise, Saski kenal baik dulu lah calon suami Saski. Jangan asal nikah macem Mamak,” saran Mak Zizah.
Ternyata melamun itu membuat perjalanan mobilku tidak terasa berlalu. Tiga tikungan lagi, restoran yang aku tuju segera nampak. Tapi, hehh, aku menghela nafas.
“Sebetulnya kenapa sih kamu nggak pernah mau pacaran?” pertanyaan Lando entah untuk yang keberapa mengusikku sekali lagi kala itu.
Aku sendiri yang disodori pertanyaan itu justru terdiam bingung.
“Halooo?!” Lando meminta perhatian.
“Bingung Ndo mau jawab apa,” cuman itu akhirnya yang keluar.
“Kamu pernah patah hati karena cowok? Atau yang paling parah pernah dilecehkan oleh cowok? Kamu juga nggak lesbi kan?” dari pertanyaan biasa sampai yang bernada menuduh dihujamkan Lando padaku.
Sekali lagi aku cuma melongo bingung. Karena buatku alasan itu terlalu komplek namun biasa. “Apa ya… Sepele saja sih Ndo alasannya. Aku terlalu lama untuk melakukan apa-apa sendiri. Pacaran itu membuat aku harus membagi waktu, perhatian, sayang, dan juga duit,” kataku bercanda sok kikir.
“Terus kalau nggak mau pacaran, bagaimana kamu bisa mengenal orang yang akan menikah denganmu? Aku saja yang kupikir sudah merasa cocok dengan pacarku dan bersiap-siap untuk menikah, ternyata selalu saja mengalami ketidakcocokan. Bingung juga mau cari pasangan yang seperti apa nantinya,” keluh Lando sendirian. “Eits, jangan-jangan kamu nggak mau menikah juga?” Lando terkejut khawatir.
Tawaku meledak. Sesaat, namun terdiam dengan sadar yang baru kudapatkan. “Ya Ndo, bahkan untuk menikah pun tidak terpikirkan olehku. Orangtuaku fine-fine saja sih. Hehe, mungkin belum kali ya.”
Lando menggeleng-gelengkan kepalanya. “Wah, kayaknya kamu sudah kebanyakan hidup di kota besar macam Batam begini nih. Ya, jangan begitu lah.”
“Yah, lihat saja deh nanti. Pokoknya sejauh ini aku masih merasa baik-baik saja kok dengan kondisiku seperti ini. Kecuali mungkin nanti berubah kalau aku bertemu cowok yang klik barangkali ya?” aku mulai tidak optimis dengan pendirianku. Yah daripada nanti kualat sama omongan sendiri.
Restoran yang kutuju benar-benar kini sudah di depan mata. Setelah memarkirkan mobilku, aku justru termenung. Di seberang mobilku, ku tahu sedan metalik bernomor BM 1510 XX itu milik Roni. Pukul 19.45 WIB, aku sudah telat 15 menit dari janji kami berdua. Ah, dan betapa tepat waktunya Roni yang kini pastinya telah menunggu di dalam sana.
Bimbang itu menyergap diriku lagi. Tapi, ya ampun Saskia, ini kan cuma masalah iya atau tidak pacaran saja. Kenapa sebegitu paniknya diriku!
Namun sisi hatiku yang lain mengajak berdebat. Tapi coba akibatnya nanti apa, kemana-mana harus pamit nantinya, ini itu nggak bisa cuek lagi, apa ini yang aku inginkan? Langsung terbayang bagaimana waktu sendiriku yang banyak kulakukan untuk membaca dan menulis seperti hobiku sejak dulu harus terkurangi. Tidak terbayang juga jika nanti justru Roni akan sedikit-sedikit mengkhawatirkanku jika aku mendapat tugas liputan malam atau ke tempat yang jauhnya minta ampun. Duh, pasti nggak seru lagi!
“Kamu nggak bisa terus hanya membagi perhatian dan sayang itu dengan teman dan keluarga Sas,” suara Lando yang dulu pernah mampir ke telingaku tiba-tiba ikut-ikutan memberiku pertimbangan.
“Tuhan, beri aku petunjuk,” pintaku menggumam.
Aku langsung turun dari mobil dan berjalan pasti masuk ke dalam restoran. Begitu melihat Roni senyumku langsung merekah terkesima. Sayang sekali mungkin jika ada wanita yang begitu menyia-nyiakan perhatian dan ketulusan perasaaan seorang Roni yang banyak membuat para wanita terpikat.
Begitu melihatku, Roni langsung berdiri. “Terimakasih Saski, kamu betul-betul datang,” ujarnya seraya menarik kursi untukku duduk.
Sesaat aku membuang lirikan pandangan ke kanan. Jikalau Roni tahu ilmu bahasa tubuh, seharusnya ia bisa menebak apa yang sedang terjadi padaku. Sebuah rencana yang mungkin tak akan pernah dilupakannya.
Kursi untukku masih menunggu tubuhku untuk kududuki. Namun sayangnya aku tidak memilih tindakan itu. “Maafkan aku Roni, mungkin semua ini sudah begitu berharga untukmu. Mulai dari restoran ini, waktu yang kau sediakan untukku, sampai kesediaanmu hingga saat ini menungguku. Namun…” wajahku sesaat pucat menahan rasa.
“Ada apa Sas? Kamu sedang tidak enak badan,” Roni menggenggam tanganku. “Ayolah, duduk dulu.”
Ku teruskan ucapanku yang terputus. “Aku memang datang Roni, sekarang ada di hadapanmu. Tapi hanya untuk meminta maaf demi apa yang selama ini telah aku lakukan. Dan aku ingin katakan kalau aku masih belum siap untukmu, juga untuk menerimamu. Mungkin suatu ketika perasaanku benar-benar tumbuh untukmu ketika mungkin juga sudah tidak ada lagi rasa yang sama seperti sekarang untukku. Sekali lagi maaf, dan belajarlah untuk melupakanku.”
Segera kubalikkan tubuhku dan bergegas berjalan menjauh. Entah apa yang terjadi di balik tubuhku, aku tidak ingin mencoba untuk tahu. Maaf, aku sudah mencoba untuk mempercayai semuanya, Lando, Roni, atau entah siapapun kalian. Tapi aku sendiri bahkan tidak tahu apa yang sedang aku rasakan atau aku alami. Aku hanya percaya, mungkin besok semua keyakinan dan ketetapan ini bisa berubah, tapi tidak sekarang. Yah, mungkin besok, dan sekarang aku masih belum siap.
**
Bunyi nada dering handphone mengusik lelapku di tengah malam. Aku melirik malas layar handphone yang telah cukup membangunkanku. Ah, ternyata Lando meminta perhatianku untuk membaca kiriman sms darinya.
“Gmn kncanx?”
Aku menguap memuaskan rasa kantukku. “Yg jls, msh te2p single,” balasku yang lalu kuteruskan dengan mematikan handphone.
Dan, ah, tiba-tiba sebuah ide nakal terbersit dalam alam setengah sadarku. Bagaimana ya bila aku jadian dengan Lando saja?

Mengapa Balon Hijau Harus Meletus Lebih Dulu?

            LAGI-LAGI aku mendengar aduan Bu Siti tentang ulah Mimi. Kembali aku menerima keluhan guru dari putriku yang berulah di kelasnya.
            “Bu, Mimi tadi menangis lagi sewaktu kami semua menyanyi lagu Balonku Ada Lima. Sebetulnya ada apa ya Bu?” terulang pertanyaan yang sama dan selalu kudengar sejak Mimi mengenal kata TK sebagai status pendidikannya tujuh hari terakhir ini.
            Ya, ya, ini sudah hampir seminggu Bu Siti mengadu kepadaku. Besok hari Minggu, dan mungkin seharian besok aku bisa mengulang ingatan untuk menggali tahu, mengapa Mimi selalu menangis saat mendengar lagu tersebut.
            “Mimi sayang, tadi kenapa kok nangis lagi?” kubelai kelam halus rambut putriku satu-satunya itu dalam perjalanan pulang ke rumah setelah aku menjemputnya dari sekolah.
            Bibir putri keduaku malah menjawab dengan gerak makin mengerucut, dan bukannya suara. Jika melihat ini bisa kutebak, tak akan ada jawaban yang dapat dengar. Dengan cairan ingus yang tersisa di hidung, digerakkan hidungnya ke atas hingga sebuah suara tarikan terdengar. Sementara itu, sisa air mata masih nampak mengembun di ujung-ujung bulu matanya. Mimi mengerjap, membuat bekas tangisannya lebih lama membekas.
            Aku turuti kemauan Mimi untuk diam. Akhirnya sesampainya di rumah, kulakukan ritual seperti biasanya. Mengecek ke dapur apakah bibik telah siap dengan masakannya, membantu Mimi berganti baju, dan ini yang mungkin hari ini tidak akan aku lakukan dan aku lewati, menanyakan apa saja kegiatannya tadi di sekolah.
            Teringat perkara yang membuatnya ngambek sampai menangis, akhirnya kupilih untuk langsung mengajaknya ke meja makan. Kupikir ada hal di luar kebiasan yang harus kulakukan. Makanya, hidangan Mimi siang itu kutambah dengan semangkok ice cream. Tentu saja si mungilku itu langsung merubah garis bibirnya dengan senyum.
            “Mama, ini kan baru hari Sabtu. Biasanya baru besok Mimi bisa makan ice cream. Mama nggak sedang lupa kan?” Mimi mengingatkan dengan mata mengerjap-kerjap tanda kegirangan di tengah keasyikannya mengulum sendok demi sendok ice cream.
            Namun demi melihatnya senang, kukatakan saja, “Aih, mama lupa. Tapi yah, Mimi sudah makan ice cremnya tuh,” jawabku pura-pura sungguhan lupa.
            Senyum menangnya mekar. Tapi aku senang. Menurut yang pernah kudengar, ice cream bisa mengembalikan mood seseorang. Itu pun yang kuinginkan ada dari Mimi. Semoga ia kembali riang. Dan semoga aku bisa menemukan jawaban, mengapa ia selalu menagis kala mendengar lagu Balonku Ada Lima.
            Pengaruh makan siang itu akhirnya membuat Mimi mengantuk. Setelah ku tahan dahulu dengan selembar kertas dan krayon untuk beraktivitas, setelah satu jam kurasa cukup untuk pencernaannya, akhirnya Mimi kuperbolehkan tidur. Membiarkannya asyik dengan kebiasaan ini memang sengaja untuk mengembangkan kreativitasnya. Siapa sih orang tua yang tidak bangga jika anaknya suka apalagi sampai berbakat menggambar? Ditambah lagi, besok ia akan kembali mengikuti lomba mewarnai. Lomba yang bisa membuatnya besok malam justru akan tiada henti bercanda dengan kertas dan crayonnya.
            “Supaya besok kalau ada lomba lagi bisa menang Ma. Jadi kita harus terus belajar,” selalu itu yang jadi alasan Mimi usai mengikuti lomba dan kalah, entah nasehat itu ditujukannya untuk siapa. Ah, mungkin itu akan berubah jika ia menang besok, batinku dalam lamunan.
            Namun, astaga, mengapa dengan anakku kali ini? Lebih tepatnya dengan apa yang digambarnya barusan. Selembar kertas yang tadi tidak sempat kuperhatikan kini ada di kedua tanganku. Bukan hanya karena di gambar itu aku melihat seorang anak berkucir dua, yang kurasa Mimi menggambar dirinya sendiri, sedang membawa balon begitu banyak. Namun dalam gambar itu, semua balon berwarna hijau. Gambar yang belum selesai itu begitu menonjol dengan dominasi warna hijau. Hanya ada goresan krayon hitam yang menjadi penegas lekuk bentuk gambar demi gambar.
            Aku terpana, lantas mengeja-eja lagu Balonku Ada Lima. “Balonku ada lima. Rupa-rupa warnanya. Hijau kuning kelabu. Merah muda dan biru. Meletus balon hijau. Door!”
            Ya, seperti lagu itu. Aku teringat, entah mengapa dulu sewaktu aku hamil Mimi, aku begitu kacau jika harus bertemu warna hijau dominan. Baju hijau, rumput hijau, daun hijau, dan segala yang dominan hijau. Untung tidak sampai pada membenci sayuran hijau. Entah apalah jadinya Mimi dan rambutnya jika aku tak suka makan sayur.
            Ibuku bilang sayur bagus untuk rambut bayi yang sedang kita kandung. “Nggak doyan sayur nanti rambut anakmu tipis, lho,” pesan ibu.
            Nenek Mimi itu juga mengatakan padaku, “Jangan sampai benci sangat dengan sesuatu. Nanti berkebalikan pada anakmu.” Dan waktu hamil, kuakui aku membenci warna hijau yang dominan. Jangan tanya kenapa, kukira kebiasaan itu karena bawaan bayi yang sedang kukandung, Mimi.
            Suamiku pun tiada hentinya membujukku untuk menyukai warna hijau. “Warna hijau kan sejuk, warna yang alami, warna yang sehat. Malah ada kata orang terapi mata dengan melihat hijaunya daun-daunnya.”
            Tapi tetap saja, yang namanya lagi tidak suka, ya tidak. Kadang apa yang aku alami sewaktu hamil kala itu cukup membuat aku kesulitan. Bayangkan, orang begitu enaknya berekreasi dengan duduk-duduk di bawah pohon yang rindang. Sedangkan aku, bisa mendadak pusing bila campuran  warna biru dan kuning itu melintas meruah di mataku.
            Okelah, kalaupun Mimi sekarang malah begitu menyukai warna hijau. Namun mengapa sampai harus menangis bila mendengar lagu Balonku Ada Lima? Masa iya Senin besok aku harus mengatakan hal ini pada Bu Siti seperti ini, “Bu, waktu menyanyi lagu Balonku Ada Lima, yang dinyanyikan meletus balon kuning saja ya, Bu.” Atau, “Bagaimana kalau balon biru saja, Bu. Biar sama akhiran u-nya dengan kata ‘kacau’?”
            Ya ampun, apa nggak terbahak-bahak nanti Bu Siti dan ibu dari teman-teman Mimi yang lain? Nah lho, terus apa dong yang harus aku lakukan?
            “Mama… balonnya yang hijau jangan dipecah,” ceracau igau Mimi membuyarkan sesaat debat pikirku.
            Tuhan, sebegitu dalamkah makna hijau bagi seorang putriku ini? Sampai ia harus membuat gambar dengan semua balon yang diwarnainya dengan hijau. Betulkah balon hijau yang jumlahnya setelah kuhitung ternyata ada sebelas dalam gambarnya ini sebagai ganti satu balon hijau yang meletus dalam lagu itu?
            Aku menggeleng bingung. Jawaban teka teki ini memang sudah kutemukan. Namun justru kini aku belum bisa menemukan cara menggunakan jawaban itu.
**
            MALAMNYA, saat kuceritakan hal itu kepada suamiku, justru kami terbawa arus debat sibuk menerka-nerka. Kenapa balon yang meletus dalam lagu itu harus yang warnanya hijau.
            “Mungkin karena ditiup paling awal. Yang lebih dulu ada makanya ia meletus lebih cepat,” jawab suamiku asal namun bisa dinalar.
            “Ah Pa, kenapa kita jadi tebak-tebakkan begini. Sekarang solusinya seperti apa?” sahutku tak sabaran.
            Sungguh, aku rasanya harus berekspresi apalagi jika Bu Siti kembali mengutarakan hal yang sama waktu aku menjemput Mimi. Sebagai orangtua, tentunya aku pun tak tahan jika terus menerus melihat putriku berlinang air mata setiap kali pulang sekolah. Jadi apa jalan keluarnya?
            “Usulkan saja untuk menyanyikan lagu Balonku Ada Lima sampai ceritanya semua balon di lagu itu meletus,” kembali jawaban asal namun rasional itu terlontar dari suamiku.
            “Iya, ya,” aku mengangguk-angguk seperti terlintas sebuah ide cemerlang. “Mereka jadi belajar menghitung dan menghapal balon apa saja yang sudah meletus,” gumamku.
            “Nah, sudah nggak pusing lagi kan Senin besok?” Aku menggeleng tersenyum menatap suamiku. Meski aku masih tidak tahu tepatnya mengapa balon hijau harus meletus lebih dulu, tapi setidaknya kini aku tahu cara agar Mimi tidak menangis lagi bila mendengar lagu Balonku Ada Lima.
**
            DUA HARI kemudian aku bisa melangkahkan kaki ringan kala mengantar Mimi ke sekolah. Aku tidak perlu khawatir dengan tangis Mimi. Malahan, usulku nanti bisa membantu Bu Siti untuk mengajar anak-anak kan?
“Oh, begitu ya Bu, ceritanya,” Bu Siti mengangguk anggukkan kepalanya ketika kusampaikan gagasanku. Anggukan kepalanya makin yakin ketika ia mendengar alasan usulku tersebut yang menurutku, bisa mencerdaskan anak-anak karena belajar mengingat dan menghitung.
Akhirnya, khusus hari Senin itu aku menunggui Mimi di sekolah. Sampai satu jam waktu belajarnya aku masih bisa melihatnya tersenyum. Aku jadi teringat bagaimana aku mengajak Mimi selama dua jam untuk menyanyikan lagu Balonku Ada Lima saat hari Minggu kemarin.
Yah…, awalnya seperti yang kuduga, ia menangis memprotes.
“Mama, jangan nyanyi lagu itu,” rengeknya kesal.
“Eits, dengarkan dulu. Lagu yang ini nggak seperti yang dinyanyikan bu guru di sekolah kok,” bujukku.
Mimi tetap menangis. Kakinya menendang-nendang dalam posisi duduknya. Tapi aku tidak peduli. Setelah satu lagu Balonku Ada Lima berisi balon hijau yang meletus, aku mengulang lagu itu kembali.
“Mi, habis balon hijau tadi, warna balonnya apa lagi?”
“Nggak tahu!” Mimi membuang wajahnya kesal di sela-sela isak tangisnya.
Aku malah tersenyum geli melihatnya ngambek. Tapi dengan cueknya, kunyanyikan lagi lagu tersebut.
“Meletus balon kuning. Dorr! Hatiku sangat kacau.”
Mimi ikut terkejut.
“Balon ku tinggal tiga. Kupegang erat-erat,” kulirik Mimi yang menurunkan nada tangisnya. Lagu itu kembali kuulang yang tentunya giliran balon berwarna kelabu kemudian yang meletus.
Tiba giliran dimana lagu tersebut meletuskan balon merah muda, Mimi sudah mulai bisa sedikit-sedikit mengikuti nyanyianku. Dan begitulah, setelah beberapa kali menyanyi, wajah gembira Mimi sudah berseri.
**
YA, SAAT-SAAT mendebarkan itu akhirnya tiba di setengah jam akhir waktu Mimi di sekolah.
“Anak-anak, sekarang waktu pulang. Tapi sebelum pulang kita nyanyi dulu yuk. Ibu punya lagu baru nih,” Bu Siti seperti biasanya sewaktu pulang sekolah kembali mengajak murid-muridnya untuk menyanyi.
“Balonku ada lima. Rupa-rupa warnanya.”
Belum sempat lagu itu selesai, Biyan, kawan Mimi yang duduk di bangku paling depan memprotes. “Ibu guru bohong. Katanya lagu baru.”
Bu Siti menghentikan senandungnya. “Eit, coba dengarkan dulu.” Kemudian apa yang kemarin kulakukan pada Mimi kini selanjutnya diulang oleh Bu Siti di depan kelasnya.
Tentu saja, Mimi menjadi penjawab yang paling keras suaranya, paling pertama menjawab, dan tentunya paling benar. Di waktu pulang, dengan menggandeng tanganku Mimi berceloteh lebih dulu.
“Mama tahu nggak kenapa balon hijau meletus duluan?”
Aku menoleh ke arah Mimi bingung. “Mungkin karena ditiup paling awal. Jadi karena ia lebih dulu ada makanya ia meletus lebih cepat,” jawabku teringat perbincangan dengan suamiku dua hari lalu.
“Salah Ma. Karena hati kita sedang kacau, makanya yang meletus duluan warna hijau. Coba kalau kitanya lagi marah-marah, mungkin warna merah yang duluan. Terus kalau hati kita lagi senang, mungkin malah jadi balon kuning yang meletus duluan,” jawab Mimi.
Aku menatap wajah mungil putriku penasaran. “Tahu darimana?”
“Kemarin waktu lomba menggambar, Mimi sempat tanya ke kakak-kakak yang kemarin jadi panitia. Katanya jawabannya kayak begitu.”
Aku melongo terkejut. Kok ya sempat-sempatnya dia bertanya ke orang-orang di sekitarnya.
“Makanya Mimi tadi nggak nangis lagi. Kan Mimi sudah tahu jawabannya kenapa kok balon hijau yang meletus duluan. Tapi Ma, yang penting Mimi sekarang senang karena semua balon bisa adil meletus semua,” ujarnya mengangguk-angguk yakin.
Aku membatin, jadi bukan karena ideku merubah lagu ya?

Target Bacaan Qur’an Ibu



Oleh: Ika Maya Susanti
Semua bermula dari saat kulihat Ibu bersantai lama di teras rumah pada suatu petang. Ini sungguh jarang terjadi, karena biasanya seusai maghrib, Ibu selalu memilih untuk mematung menyaksikan sinetron di televisi. Dan uniknya, saat itu Ibu justru berada di bangku panjang rebah di balik pagar yang tak bercelah. Meski pandangan yang terbatas tak dapat melihat ke luar, namun tatapan Ibu seperti menembus pembatas hijau milik pagar itu.
“Ada apa dengan Ibu? Tumben!” kata batinku bertanya.
Penasaran, kutanyai Ibu, dengan pertanyaan “Sedang apa?” Wajah Ibu saat itu kudapati tampak khusyuk menembus pembatas pagar. Tentu saja seperti melihat sesuatu yang tak bisa terlihat mata. Tergagap, Ibu pun menjawab pertanyaanku dengan gelengan kepala. Tapi, ada seraut ekspresi yang tak bisa kutangkap gerangan apa di wajah Ibu.
Kupandangi seberang rumah yang masih riuh dengan suara anak-anak kecil menderas bacaan Qur’an. Oh, mungkin Ibu sedang menikmati celoteh kecil Arsa atau Kiki, anak-anak tetanggaku usia TK yang memang terkenal kerap berulah lucu jika sedang mengaji.
Kembali ku masuk, namun beberapa menit kemudian lagi, kudekati Ibu di luar rumah. Ternyata, Ibu tak berada sedang merebahkan dirinya di kursi panjang itu lagi. Tak ada satu pun orang yang bisa ku tanya. Namun suara Ibu di seberang rumah, menjadi jawabannya. Ibu ada di rumah Bu Sam, tetanggaku. Masih juga aku bertanya, sungguh petang yang tak biasa bagiku ketika melihat Ibu demikian.
Dan jawabannya, akhirnya kudapati juga di beberapa waktu selanjutnya. Usai dari rumah Bu Sam, wajah Ibu tampak berseri-seri. Namun tidak semeriah ketika usai mendapatkan arisan. Dalam setengah berbisik, Ibu berkata lamat-lamat, “Mbak, mulai besok, Ibu mau ngaji di tempat Bu Sam. Ibu minta ngaji dari awal saja. Nggak pa pa wes kalau dari alif ba’ ta’. Yang penting bacaannya bener!” kabar gembira itu Ibu sampaikan padaku.
Sungguh hal yang tak ku kira. Karena selama ini, sebetulnya aku sedikit kecewa ketika Ibu ku ajak mengaji di rumah sakit tempatnya kerja, namun Ibu selalu tak mau. Alasannya karena tak dapat mengikuti kecepatan ritme bacaan para peserta pengajian. Tapi kini, Ibu berinisiatif untuk belajar mengaji di rumah tetanggaku yang selama ini kerap membelajari anak-anak kecil membaca Al Qur’an.
Sebetulnya sejak aku kembali dari Batam usai sekian tahun lamanya meninggalkan rumah, aku cukup senang ketika bisa membelajari Ibu membaca Qur’an. Waktu itu, Ibu sendiri yang meminta kepadaku. Seusai maghrib, kami pun menekuni Al Qur’an di pangkuan masing-masing. Ibu yang membaca dengan bersuara, aku yang menyimak membetulkan. Waktu itu rasanya menyenangkan sekali. Tak menyangka, ternyata pilihanku untuk kembali hidup dekat dengan orang tua menjadi alasan Tuhan yang memintaku untuk membenahi bacaan Qur’an Ibu.
Sayang, kebiasaan itu hanya berjalan beberapa hari. Aku kerap memilih menekuni lembaran-lembaran target bacaanku Qur’anku sendiri. Sedang Ibu, menjadi kembali asyik dengan tayangan sinetron di televisi. Cengkrama bersama kami dengan Qur’an tak berlanjut lagi.
Dan kini, Ibu ingin belajar kembali, dengan seorang wanita yang memang sangat mengerti bagaimana membaca Qur’an. Di hari pertama, Ibuku melapor jika ternyata ia tak harus memulai dari Iqra’ jilid 1. Menurut analisa Bu Sam yang disampaikan Ibu padaku, Ibu hanya tinggal membenahi tajwid dan membaca secara lancar saja.
Sayangnya, ayahku tak begitu menyepakati apa yang dilakukan Ibu. Menurut Ayah, kenapa Ibu tak belajar di rumah saja denganku. Mungkin Ayah malu, istrinya masih belajar mengaji dengan cara mengeja, bahkan kalah dengan anak-anak kecil di sesi usai maghrib yang telah khatam Qur’an beberapa kali. Terlebih lagi, suara Ibu yang sedang membaca Qur’an memang terdengar lantang ke sana sini.
Tapi Ibu tak peduli. Bahkan yang ada, malah makin bersemangat. Menurut Ibu yang masih disalinnya dari perkataan Bu Sam, sebetulnya ada banyak para tetangga yang juga kurang bisa lancar membaca Qur’an seperti Ibu.
“Malah, Pak Mu’in itu dulunya yo nggak bisa lancar baca Qur’an juga kok, Mbak. Tapi karena ditunjuk jadi pengurus mushola, Pak Mu’in yang waktu itu masih dinas di Surabaya, belajar sama orang di sana. Lama-lama yo buktinya bisa lancar baca dan sering jadi imam di mushola,” kata Ibu dengan semangat membela dirinya.
Semangat Ibu memang terbukti. Kerutinannya mengaji di Bu Sam berbuah seorang teman yang juga berumah sebagai tetanggaku. Bu Joko, yang biasanya kerap ikut tadarus usai tarawih di mushola ketika bulan Ramadan, menjadi teman belajar Ibu di Bu Sam setiap usai shalat Isya’.
Kini hampir sebulan Ibu rutin mengaji. Suatu ketika, barulah ku tahu apa yang sebenarnya menjadi satu dari sekian target Ibu untuk belajar membaca Qur’an. “Moga-moga nanti pas bulan puasa, Ibu bisa ikut tadarus di mushola,” kata Ibu dengan wajah sumringah.
Aku jadi teringat kejadian satu bulan puasa tahun lalu, yang menjadi saat pertama dalam hidupku mengikuti tadarus di mushola dekat rumah. Bu Sam memang sempat mengeluh, karena malam-malam tadarus terutama untuk para wanita, hanya dihidupkan oleh segelintir orang saja. Paling-paling, hanya aku dan sekitar lima orang remaja yang menjadi pengisinya. Untuk ibu-ibunya, hanya Bu Sam dan dua orang ibu-ibu lainnya. Belum lagi ketika masa halangan menjangkiti kami para wanita atau masa-masa mendekati akhir dari bulan ramadan. Absen ketidakhadiran jadi makin meningkat!
Kata-kata Ibu yang kudengar itu pun membuatku tersenyum. Yah, semoga malam-malam tadarus nanti ada pertambahan pasukan yang membuat lantunan Qur’an makin meriah kala beradu dengan mushola-mushola lain yang ada di lingkungan perumnas kami. Paling tidak, satu orang yaitu ibuku itulah yang bisa menjadi pasukan barunya!
(Berdasarkan kisah nyata sendiri. Intinya, yuk kita sama-sama melihat sekeliling atau diri sendiri, makin dekat ramadan, kira-kira apa ya yang bisa kita persiapkan untuk bulan suci tersebut?) :)

Si Tukang Contek


Oleh: Ika Maya Susanti

“Pagi, Ning!” sapa Nayla.
“Hai,” jawab Alina sambil tetap asyik membaca buku.
“Aduh, serius sekali! Kamu kan anak pintar. Semester kemarin saja juara umum di kelas lima. Masa mau ulangan Mathematic masih belajar dulu di sekolah? Pelajaran Mathematic kan mudah!” ledek Nayla yang duduk di sebelah Alina.
“Ya, enggak mungkin dong aku dapat nilai bagus tapi tidak belajar dulu?” jawab Alina tersenyum.
“Hm, kalau begitu nanti aku dikasih contekan, yah!”
“Hehehe, maaf Yu! Kamu tahu kan aku tidak bisa. Apalagi ini pelajarannya Bu Desy. Bisa langsung dapat nol nanti jika kita ketahuan!” tolak Alina.
Nayla langsung mencibir. “Huh, pelit!” seru Nayla kesal.
“Yu, aku minta maaf! Kalau pas ulangan, aku tidak berani. Tapi kalau ada PR, kamu kan selalu kuberi contekannya?”
“Iya! ” jawab Nayla dengan nada kesal.
Alina kembali menekuni bukunya. Diam-diam, Alina lalu melirik Nayla. Ia khawatir, jika Nayla masih marah. Tapi, Alina justru kebingungan. Ia melihat Nayla sedang menulis di atas meja dengan tulisan yang sangat kecil.
“Apa itu?” tanya Alina penasaran.
“Sudah, kamu belajar saja. Enggak usah sok ingin tahu!” suara Nayla terdengar ketus.
Alina jadi tidak enak hati. Tapi Alina mulai mengerti apa yang sedang dilakukan  sahabatnya itu.
“Kamu membuat contekan di atas meja, ya?” tebak Alina.
“Aduh, cerewet banget!” bentak Nayla.
“Tapi kalau ketahuan bagaimana?” Alina mengingatkan Nayla.
“Kalau kamu enggak bilang, Bu Desy juga enggak akan tahu. Lagi pula, kamu saja enggak mau menolong aku!” omel Nayla.
Akhirnya karena Nayla sulit diberitahu, Alina pun menyerah. Tapi tetap saja, Alina takut jika nanti Bu Desy tahu apa yang dilakukan Nayla.
Saat ulangan, perasaan Alina terus merasa khawatir. Ia jadi tidak bisa berkonsentrasi dengan baik saat menjawab soal. Sementara Nayla, justru terlihat asyik dan santai. Nayla tinggal mencari jawaban pada tulisan kecilnya yang sudah dibuatnya.
Saat waktu ulangan hampir separuh waktu, Bu Desy berjalan berkeliling ke meja para murid. Melihat itu, pikiran Alina makin panik. Sesekali ia melirik ke arah Nayla dan juga Bu Desy. Saat langkah Bu Desy makin mendekati mejanya dan meja Nayla, Alina makin tidak tenang. Tubuhnya berkeringat deras. Karena ketakutan, Alina jadi kesulitan menjawab soal yang ada. Apalagi Bu Desy kemudian berdiri lama di sebelah meja Nayla yang berada di tengah-tengah kelas.
Namun tiba-tiba…
“Apa ini?” Bu Desy mengamati meja Nayla.
Karena tulisan Nayla terlalu kecil, Bu Desy lalu mendekatkan wajahnya ke arah meja untuk melihat lebih dekat.
“Kamu membuat contekan di sini, ya?”
Nayla ketakutan dan tidak berani bicara.
“Baik, sekarang Ibu anggap kamu tidak ikut ulangan kali ini!” Bu Desy lalu mengambil kertas ulangan yang belum selesai dijawab oleh Nayla.
Detak jantung Alina berdegup kencang. Sisa waktu ulangan yang ada pun tidak bisa dimanfaatkan Alina dengan baik.
**
            “Ning, kamu dipanggil Bu Desy ke ruang guru sekarang!” ujar Prita, teman sekelas Alina.
“Ada apa?” tanya Alina.
“Wah, aku kurang tahu.”
Alina lalu teringat dengan ulangan Mathematic beberapa hari yang lalu. “Aduh, kalau nanti aku ditanya-tanya Bu Desy, aku jawab apa?”
Saat sudah bertemu Bu Desy, Alina memang mendapat beberapa pertanyaan. Bu Desy bertanya ke Alina tentang sikap Nayla selama ini.
“Nayla itu memang sering mencontek tugas-tugas rumahmu ya? Ibu curiga karena nilai-nilai tugasnya selalu bagus, tapi nilai ulangannya sering jelek,” ujar Bu Desy.
“I-iya, Bu. Saya minta maaf,” Alina akhirnya mengaku.
“Kamu kan sudah susah payah mengerjakannya. Kenapa kamu berikan begitu saja? Ibu tidak suka dengan sikapmu itu. Lalu, nilai ulanganmu kemarin hanya mendapat nilai 65! Padahal sebelumnya kamu mendapat nilai 90 bahkan 95. Kok bisa menurun?”
“Saya kemarin ketakutan, Bu. Nayla sebetulnya sudah saya ingatkan sejak sebelum ulangan. Tapi dia tidak peduli. Akhirnya selama ulangan, saya jadi khawatir. Apalagi sewaktu Ibu mengambil kertas ulangan Nayla. Saya jadi gugup dan tidak bisa mengerjakan soal ujian dengan baik,” jawab Alina.
“Ning, Ibu tahu kamu anak yang pintar. Tapi, kamu juga mesti tegas kalau ada temanmu yang meminta jawaban tugas atau ulangan. Walaupun dia teman dekat kamu, kamu tidak bisa bersikap seperti itu. Itu sama saja merugikan dirimu sendiri,” nasehat Bu Desy.
“Iya Bu, saya minta maaf,” ujar Alina.
“Kalau itu adalah tugas rumah, kamu boleh mengajari mereka. Tapi tetap tidak boleh memberi tahu jawabannya begitu saja!” tegur Bu Desy.
“Tapi Bu, saya takut mereka membenci saya.”
“Teman yang baik itu justru akan senang kalau kamu mengajarinya. Dan kalau kamu memberikan jawaban begitu saja ke temanmu, berarti kamu juga merugikan temanmu itu. Apa kamu mau punya teman yang tidak bisa pintar karena terus menerus menerima jawaban dengan mudah dari orang lain?” terang Bu Desy.
Alina menggeleng. Setelah dari ruangan Bu Desy, Alina mencoba memahami kata-kata Bu Desy. Dalam pikirannya, Alina memang khawatir jika Nayla kemudian menjauhinya. Tapi saat ia kembali ingat kata-kata Bu Desy, Alina merasa sudah saatnya ia menjadi teman baik  sesungguhnya untuk Nayla.

Rahasia Kata-kata Ajaib


Oleh: Ika Maya Susanti

Suatu ketika, seorang Raja hendak menguji kedua puteranya, Pangeran Dira dan Pangeran Wira. Raja ingin tahu, siapa di antara kedua pangeran itu yang pantas menjadi raja karena memiliki kata-kata ajaib. Konon, seseorang yang memiliki kata-kata ajaib, bisa berhasil melaksanakan tugas apapun yang meskipun berat.
“Tradisi memilih calon raja yang memiliki kemampuan untuk mengucap kata-kata ajaib ini sudah menjadi tradisi. Begitu juga saat aku dulu terpilih untuk menjadi raja. Jadi sekarang, aku juga harus memilih satu di antara kedua puteraku tersebut dengan cara yang sama,” cetus Raja saat sedang menimbang-nimbang apa yang akan ia tugaskan untuk kedua puteranya.
“Aku ingin kalian meminjam batu sakti milik seekor naga yang tinggal di atas sana,” ujar Raja sambil menunjuk sebuah bukit tinggi yang terlihat dari istana.
Pangeran Wira langsung tersenyum. “Baiklah Ayah, kami akan melakukannya!” jawab Pangeran Wira optimis lalu menoleh ke arah kakaknya.
Wajah Pangeran Dira justru berubah pucat. “Ah, mana mungkin naga itu mau meminjamkan batu saktinya?” batin Pangeran Dira.
Pangeran Dira teringat berbagai cerita tentang naga tersebut. Konon, tubuh naga itu dikelilingi api yang menyala. Matanya selalu tampak marah dan siap menerkam siapa saja yang mendekat.
Tapi tetap saja, akhirnya Pangeran Dira dan Pangeran Wira berangkat melaksanakan tugas tersebut.
“Nanti, apa yang akan engkau lakukan untuk merebut batu itu? Selama ini, tak pernah ada orang yang berani ke sana,” kata Pangeran Dira.
“Tapi, bukankan cerita itu cuma kita dengar dari orang lain?” jawab Pangeran Wira.
“Aku yakin orang-orang itu benar. Kita pasti pulang tanpa membawa apa-apa!” gerutu Pangeran Dira.
Pangeran Wira cuma tersenyum. “Kita coba saja dulu!”
Sementara itu, Pangeran Dira rupanya sudah membuat rencana sendiri. Ia yakin jika tidak akan berhasil. Sehingga nantinya, Pangeran Dira akan membawa pulang sebuah batu biasa yang terlihat istimewa. “Pasti ayahku tidak akan tahu!” batin Pangeran Dira sambil tersenyum licik.
Perjalanan Pangeran Dira dan Pangeran Wira akhirnya sampai di tempat tujuan. Kedua pangeran itu lalu mengintip dari celah-celah pagar batu. Di seberang mereka, berdirilah seekor naga yang sangat menyeramkan!
“Ayo kita coba mendekatinya,” ajak Pangeran Wira.
“Apa kamu tidak takut celaka? Sudah, kita pulang saja!” cegah Pangeran Dira.
Karena merasa terganggu dengan suara Pangeran Dira dan Pangeran Wira yang sedang berdebat, naga menghardik. “Hai, siapa yang ada di balik batu?”
Pangeran Wira langsung berdiri. Sedangkan Pangeran Dira tetap berjongkok bersembunyi di balik batu.
“Maafkan kami jika mengganggumu. Tapi, kami tidak ingin bermaksud jahat,” ujar Pangeran Wira.
Naga lalu mendekati Pangeran Wira.
“Ampun… ampun… kami hanya ingin melihatmu saja. Maafkan aku ya,” teriak Pangeran Dira yang lalu berdiri dan melarikan diri.
Melihat itu, naga justru tertawa terbahak-bahak. “Hahaha… Apa ia kira aku akan mencelakainya?”
“Maafkan kakakku, wahai naga. Tapi, ia ketakutan karena sering mendengar cerita orang tentang dirimu yang katanya jahat,” jawab Pangeran Wira.
“Tapi kenapa kamu tidak takut?”
“Karena selama ini aku hanya mendengar cerita, jadi aku tidak percaya. Lagi pula, aku ke sini atas perintah ayahku. Ia ingin agar aku dan kakakku meminjam batu sakti milikmu,” jelas Pangeran Wira.
Naga lalu mengajak Pangeran Wira mendekati batu sakti. Ternyata, batu milik naga itu sangat besar bentuknya. Warnanya juga sangat indah dan berkilauan.
“Sekarang, coba kamu angkat batu itu!” ujar naga. Ia sebenarnya ingin menguji, apakah Pangeran Wira benar-benar bisa membawa batu besar tersebut.
Sesaat, Pangeran Wira berdiri di depan batu itu sambil berkata dengan suara pelan, “Batu ini ringan, aku bisa membawanya!”
Ternyata, batu itu jadi mudah diangkat oleh Pangeran Wira.
“Hahaha… kamu hebat! Batu itu memang besar. Tapi ia memiliki berat yang sesuai dengan pikiran orang yang membawanya. Makanya, tidak ada yang berhasil membawa batu itu. Semua orang selalu berpikir, jika batu ini pasti berat. Ternyata kamu pemilik kata-kata ajaib!” ujar naga.
Naga kemudian meminjamkan batu itu ke Pangeran Wira. Raja yang telah melihat kegigihan dan keberhasilan Pangeran Wira, akhirnya menetapkan Pangeran Wira sebagai raja untuk menggantikannya kelak.

Pemimpin Sejati


Oleh: Ika Maya Susanti

Suatu ketika, seorang raja ingin mencari pengganti dirinya. Ia mencoba memertimbangkan, siapa dari anak-anaknya yang bisa menggantikannya.
“Bukankah seharusnya Pangeran Cakra?” tanya penasehat raja.
Raja menggeleng. “Ia memang anak pertamaku. Tapi sayang, ia mudah sombong bila ada yang memujinya. Sedangkan jika ada yang mengatakan kekurangannya, ia langsung marah. Padahal jika saja ia mau mendengar apa yang dikatakan orang lain tentang kekurangannya, ia justru jadi bisa tahu kekurangannya,” jelas Raja.
“Atau, Raja umumkan saja kepada keluarga kerajaan jika sedang mencari pengganti,” saran penasehat Raja.
“Baiklah. Nanti usai makan malam, akan aku umumkan pada mereka. Oh ya, sekarang ini seharusnya waktuku berjalan-jalan ke daerah. Kalian antar aku untuk berkeliling melihat rakyatku, ya!” pinta Raja kepada penasehatnya.
Setiap Rabu siang, Raja suka berkeliling melihat langsung kehidupan rakyatnya. Sehingga ia bisa tahu apa yang sedang dialami rakyatnya. Karena itu, rakyat pun jadi begitu mencintai Raja.
Ketika sampai di sebuah lembah, Raja melihat wajah para penduduk terlihat ceria. Terutama anak-anak yang asyik duduk sambil membaca buku. Rupanya sebelumnya, daerah itu telah dikunjungi Putri Pelangi. Ia datang sambil membagi-bagikan buku cerita buatannya sendiri.
“Wah, tampaknya kalian sedang senang ya? Kalian sedang membaca buku apa?” tanya raja pada seorang anak.
“Ini buku cerita bergambar buatan Puteri Pelangi. Gambarnya bagus dan ceritanya juga lucu!” ujar anak tersebut.
Raja mengangguk-anggukkan kepalanya.
Di malam harinya saat usai makan malam, raja seperti biasa bertanya terlebih dahulu kepada anggota kerajaan, apakah ada hal yang ingin mereka sampaikan. Ternyata, saat itu hanya Puteri Pelangi yang mengajukan diri untuk bicara.
“Wahai Ayah dan saudara-saudaraku sekalian, bisakah besok aku meminta baju-baju tebal atau selimut kalian yang sudah tidak terpakai? Karena di daerah selatan, angin sedang bertiup kencang. Banyak masyarakat di sana yang kedinginan jika malam hari,” ujar Puteri Pelangi.
Saat mendengar permintaan Puteri Pelangi, banyak anggota kerajaan yang malah mengeluh. “Ah, kami kira ingin bicara apa. Memangnya hal seperti itu penting ya?” ejek putra ke dua raja.
Tetapi, raja justru tersenyum. “Baiklah, besok kita kumpulkan pakaian dan selimut tebal yang sudah tidak terpakai. Puteri Pelangi benar, kita harus menolong mereka,” ujar Raja menengahi.
Karena tidak ada yang ingin bicara lagi, Raja lalu mengumumkan rencananya untuk mencari pengganti dirinya. Saat mendengar itu, banyak dari anggota kerajaan yang langsung melihat ke arah Pangeran Cakra.
“Ah, pasti nanti akhirnya Raja akan memilihmu!” bisik seorang puteri yang duduk di dekat Pangeran Cakra.
“Dan siapapun yang nanti terpilih, ia adalah seorang pemimpin yang tentunya  juga harus disukai rakyat banyak,” imbuh Raja.
Banyak anggota kerajaan yang menduga Pangeran Cakra adalah orang yang akan dipilih Raja. Namun ternyata ada beberapa pangeran dan puteri raja yang juga ingin terpilih menggantikan raja. Para pangeran dan puteri raja ini kerap terlihat berpura-pura baik membantu rakyat. Padahal sebelumnya, mereka tidak mau melihat kondisi rakyat di negerinya.
Akhirnya, saat pengumuman tiba. Raja lalu mengumpulkan semua anggota kerajaan serta rakyatnya di halaman istana.
“Setelah ini, aku akan mengumumkan siapa penggantiku. Ia adalah orang yang kalian sukai selama ini. Aku sering dengar, ia datang mengunjungi kalian untuk membantu atau menghibur kalian semua,” ujar Raja pada rakyatnya. “Karena itu, pilihanku jatuh kepada Puteri Pelangi. Ia akan menjadi calon raja setelah ini!”
Suara teriakan bahagia dari rakyat terpancar di segala penjuru. Sementara itu, beberapa anggota kerajaan tampak tidak menerima keputusan Raja.
“Ayah, mengapa begitu?” protes Pangeran Cakra yang sebelumnya merasa akan dipilih oleh Raja.
“Cobalah kalian lihat kelebihan Puteri Pelangi. Ia pintar dan baik. Ia juga rendah hati dan tidak sombong. Padahal, ia sudah banyak membantu rakyat. Kalian ingat bukan usulannya aaat ingin mengumpulkan pakaian dan selimut hangat untuk daerah yang kedinginan? Aku juga sering mendengar banyak rakyat yang memuji kebaikan Puteri Pelangi. Jadi, hanya ia yang pantas memimpin karena semua rakyat begitu menyukainya,” terang Raja.
Saat mendekati Puteri Pelangi, Raja tersenyum bangga. “Nak, hanya kamu ternyata yang mampu mewarisi kemampuanku dalam memimpin!” ujar Raja yang disambut dengan anggukan dan senyuman terima kasih dari Puteri Pelangi.