Pages

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Showing posts with label PRAMUKA. Show all posts
Showing posts with label PRAMUKA. Show all posts

Mar 10, 2012

Pengelolaan Sampah Kesalahan Pola Pikir dan Gaya Hidup


Pengelolaan sampah telah menjadi sebuah permasalahan di Indonesia. Bukan hanya kota-kota besar, kota-kota kecil pun semakin hari semakin dipusingkan dengan sampah dan pengelolaannya. Semakin hari, sampah bukannya semakin berkurang justru sebaliknya semakin menumpuk dan bertambah. Apa sebab?. Mungkin pola pikir kita yang perlu dibenahi. Atau gaya hidup kita yang musti dirubah.
Gaya hidup kita memang sangat akrab dengan sampah. Masih dapat kita ingat ketika Pemkot Bandung begitu putus asanya menghadapi permasalahan sampah beberapa waktu kemarin. Juga ketika Sudin Jakarta Timur kewalahan membersihkan sampah yang volumenya mencapai 6.716 m3 perhari meskipun sudah ditopang oleh 211 unit kendaraan pengangkut sampah dan 120 Tempat Pembuangan Sampah (TPS).
Contoh lainnya, seperti yang ditulis detikbandung (01/01/2009), volume sampah pada perayaan malam Tahun Baru di Bandung Kamis malam (31/12/2009), setara dengan gedung 50 tingkat atau seluas lapangan bola dengan ketebalan 30 centimeter atau sekitar 150 meter kubik.
Jangan Buang Sampah Pada Tempatnya. Kita masih terperangkap dengan pola pikir bahwa sampah harus dibuang. Sejak kecil, orang tua saya, bahkan guru sekolah saya selalu berpesan; ‘Buanglah sampah pada tempatnya’. Mungkin lantaran ini kemudian yang terpatri dalam pikiran saya adalah;
  • Ketika sampah sudah dibuang ke tempat sampah di luar rumah (atau malah ke jalanan dan sungai), maka masalah selesai.
  • Setelah sampah dibuang, kita pun bisa kembali menghasilkan sampah.
Pola pikir yang semacam ini sudah semestinya kita tinggalkan. Haruslah kita sadari apa yang terjadi dengan sampah kita setelah dibuang ke luar rumah, apakah seluruh sampah tersebut langsung hilang ditelan bumi?. Dan apa jadinya jika kita dan seluruh warga kota terus menghasilkan sampah? Apakah lahan di kota akan cukup menampung seluruh sampah kita?
Gaya hidup dan pola pikir kita terhadap sampah dan pengelolaannya musti dibenahi atau bahkan dirubah. Jangan lagi menuliskan kalimat “Buanglah sampah pada tempatnya” karena itu terbukti tidak menyelesaikan permasalahan sampah.
Kurangi dan Daur Ulang Sampah. Pertama, bukan sekedar membuang sampah tetapi yang paling utama adalah kita harus bisa untuk mengurangi sampah yang dihasilkan. Salah satunya adalah dengan membawa kantong belanjaan sendiri atau meminum minuman langsung dari gelas tanpa sedotan plastik.
Kedua, melakukan daur ulang terhadap sampah-sampah yang dihasilkan menjadi barang bernilai manfaat. Jika tidak mempunyai kesempatan untuk melakukan daur ulang, paling tidak kita bersedia memilah sampah yang dapat didaur ulang dan memberikannya (menjualnya) kepada para pengumpul daur ulang.
Perubahan kecil dalam gaya hidup dan pola pikir ini, saya yakin akan memberikan dampak yang signifikan bagi penanganan masalah sampah dan pengelolaan sampah di sekitar kita.
Referensi: bandung.detik.com; www.poskota.co.id; Gambar: google

Kode Etik Pecinta Alam Indonesia


image4Kode etik pecinta alam Indonesia dicetuskan dalam kegiatan Gladian Nasional Pecinta Alam IV yang dilaksanakan di Pulau Kahyangan dan Tana Toraja pada bulan Januari 1974. Gladian yang diselenggarakan oleh Badan Kerja sama Club Antarmaja pencinta Alam se-Ujung Pandang ini diikuti oleh 44 perhimpunan pecinta alam se Indonesia.

Kode etik pecinta alam Indonesia ini, sampai saat ini masih dipergunakan oleh berbagai perkumpulan pecinta alam di seluruh Indonesia.
Bunyi dari kode etik pecinta alam Indonesia adalah sebagai berikut:
Pecinta Alam Indonesia sadar bahwa alam beserta isinya adalah
ciptaan Tuhan Yang Maha Esa

Pecinta Alam Indonesia adalah bagian dari masyarakat
Indonesia sadar akan tanggung jawab kepada Tuhan, bangsa, dan
tanah air

Pecinta Alam Indonesia sadar bahwa pecinta alam adalah sebagian
dari makhluk yang mencintai alam sebagai anugerah yang Mahakuasa

Sesuai dengan hakekat di atas, kami dengan kesadaran
menyatakan :

  1. Mengabdi kepada Tuhan Yang Maha Esa
  2. Memelihara alam beserta isinya serta menggunakan sumber alam
    sesuai dengan kebutuhannya
  3. Mengabdi kepada bangsa dan tanah air
  4. Menghormati tata kehidupan yang berlaku pada masyarakat
    sekitar serta menghargai manusia dan kerabatnya
  5. Berusaha mempererat tali persaudaraan antara pecinta alam
    sesuai dengan azas pecinta alam
  6. Berusaha saling membantu serta menghargai dalam pelaksanaan
    pengabdian terhadap Tuhan, bangsa dan tanah air
  7. Selesai
Disyahkan bersama dalam
Gladian Nasional ke-4
Ujung Pandang, 1974

Mengenal survival


survival-425 Survival merupakan kemampuan untuk bertahan hidup di dalam kondisi apapun. Survival juga bisa diartikan sebagai teknik dalam menghadapi berbagai ancaman yang mengancam keselamatan diri. Di kalangan penggiat out bond survival dimaknai sebagai kemampuan dan teknik bertahan terhadap kondisi yang membahayakan kelangsungan hidup yang terjadi di alam terbuka dengan mempergunakan perlengkapan seadanya. Pelaku dari survival sendiri disebut survivor.
Kemampuan bertahan hidup (survival) ini sangat penting dikuasai oleh setiap orang yang sering beraktifitas di alam bebas seperti pecinta alam dan pendaki gunung. Dengan memahami prinsip dasar survival, seorang survivor diharapkan mampu mempersiapkan diri (penguasaan medan, peralatan, dan teknik) dan mampu mengambil tindakan yang tepat.
Berdasarkan jenis medannya, Survival dapat dikategorikan menjadi 4 jenis yaitu:
  1. Survival di hutan (Jungle Survival)
  2. Survival di laut (Sea Survival)
  3. Survival di padang pasir (Desert Survival)
  4. Survival di dareah kutub (Antartic Survival)
Namun jika dilihat berdasarkan kondisi alam di indonesia, survival bisa juga mencakup kemampuan bertahan terhadap medan hutan belantara, rawa, sungai, padang ilalang, gunung berapi, dsb. Dari masing-masing medan tersebut diperlukan persiapan dan penanganan yang kadang berbeda.
Ketika menghadapi kondisi yang menuntut untuk survival yang terpenting adalah tidak perlu panik. Hal ini biasanya di rumuskan dengan istilah “STOP” yang terdiri atas:
  • S : Seating (berhenti)
  • T : Thingking (berpikirlah)
  • O : Observe (amati keadaan sekitar)
  • P : Planning (buat rencana mengenai tindakan yang harus dilakukan)
Sikap tidak panik ini sangat penting sehingga seorang survivor mampu menggunakan lima elemen dasar dalam survival dengan baik. Kemampuan memanfaatkan kelima elemen ini akan sangat mempengaruhi tingkat keberhasilan suatu survival. Kelima elemen dasar itu adalah: api, pelindung, sinyal, makanan dan minuman, dan pertolongan pertama.
  • Api
Api mempunyai peranan yang sangat penting dalam survival karena berfungsi sebagai penghangat tubuh (ketika malam), menghalau binatang buas, penerangan, memberikan sinyal bahaya dan untuk memasak makanan dan minuman.
Untuk menciptakan api bisa menggunakan dua cara yaitu dengan pemakaian alat (korek api) dan dengan cara alami. Karenanya sangat penting bagi seorang yang berada di alam bebas untuk selalu membawa korek api yang tahan air atau menyimpannya di tempat yang tahan air. Sedangkan untuk cara kedua, membuat api dengan cara alami salah satunya adalah dengan batu dan kayu kering yang tentunya membutuhkan keahlian khusus yang di dapat lewat latihan.
Yang perlu diingat, untuk menciptakan panas, ternyata api kecil mampu memberikan kehangatan yang lebih dibanding api besar. Untuk membuat api, bisa mencari potongan-potongan kayu. Kumpulkan secukupnya kemudian berilah sedikit minyak atau bahan lain yang mudah terbakar (plastik atau kertas) untuk memulai pembakaran.
  • Pelindung
survivalPelindung diartikan sebagai apa pun yang mampu melindungi tubuh dari sengatan matahari, dingin, angin hujan atau pun salju. Baju adalah pelindung pertama tubuh. Pakailah baju yang sesuai dengan kondisi lingkungan. Jika panas gunakan baju yang tipis. Sebaliknya jika cuaca sedang dingin pakailah baju tebal (hangat). Kenakan jas hujan bila turun hujan.
Selain baju, jika harus berdiam cukup lama di tempat dengan temperatur dingin atau sewaktu malam hari diperlukan bivouc atau tenda baik yang telah dipersiapkan dari rumah maupun mempergunakan bahan-bahan dari alam seperti gua, ranting pohon, dedaunan dan lain sebagainya.
  • Sinyal
Sinyal yang dimaksudkan di sini adalah segala sesuatu yang bisa dijadikan alat untuk meminta pertolongan atau memberitahukan kondisi dan lokasi kita. Alat yang dapat digunakan seperti api, cermin, lampu senter, bendera. Ada berbagai cara yang bisa dipakai untuk memberikan sinyal. Jika ingin memanfaatkan api untuk sinyal maka berhati-hatilah jangan sampai terjadi kebakaran. Gunakan sinyal cermin jika melihat pesawat atau orang pada jarak yang cukup jauh. Sedangkan bila malam tiba bisa menggunakan lampu senter untuk memberi sinyal. Atau bisa pula meminta perhatian dengan cara membuat asap dengan pembakaran. Selain itu, batu, balok atau kain yang berwarna mencolok bisa juga dimanfaatkan untuk memberikan sinyal.
  • Makanan dan minuman
Makanan dan minuman adalah hal vital. Karena itu, Anda harus pandai memanfaatkan persediaan air dan minuman yang sangat terbatas. Cobalah minum jika sedang haus atau sore hari. Pasalnya, manusia bisa hidup selama tiga hari lebih tanpa air. Selain itu, perhatikan soal makanan manusia mampu bertahan hidup tanpa makanan hingga 3 minggu karenanya jangan sembarang memakan tumbuhan yang belum dikenali benar.
  • Pertolongan pertama
Pertolongan pertama adalah pertolongan darurat atau sementara untuk menghindari bahaya yang lebih besar seperti pertolongan terhadap gigitan binatang dan hipotermia. Dalam memberikan pertolongan pertama bisa menggunakan peralatan (obat-obatan) yang telah kita persiapkan sejak awal ataupun memanfaatkan benda-benda yang ada di sekitar. Kemampuan memberikan pertolongan pertama memerlukan pengetahuan dan keterampilan yang harus dilatih.
Ini hanyalah sekedar pengetahuan dasar tentang survival. Tentang teknik lebih lanjut survival (mungkin) akan saya sampaikan di lain kesempatan.

Tips Mendaki Gunung untuk Pendaki Pemula


Tips mendaki gunung berikut buat para pendaki pemula. Meskipun buat para pendaki yang sudah terbiasa mendaki gunung tidak ada salahnya untuk mengikuti tips-tips berikut. Inti dari kegiatan pendakian gunung untuk menikmati dan mensyukuri keindahan alam tanpa merusak dan menyakiti gunung itu sendiri dan diri sendiri sebagai pendaki. Saya biasa menyebutkannya sebagai menikmati tanpa menyakiti.
Mendaki gunung merupakan salah satu hobi yang kian hari kian marak dan banyak digemari.Kegiatan pendakian gunung, sebagaimana kegiatan di alam bebas lainnya, selalu penuh petulangan yang menantang, bahkan terkadang ekstrim.
Pendaki pemula mendaki gunungLantaran itu, dalam melakukan pendakian gunung, seorang pendaki musti melakukan persiapan yang matang. Jangan sampai kegiatan yang bertujuan untuk mendapatkan pengalaman dan kepuasan diri ini berakibat yang merugikan buat diri pendaki dan alam (lingkungan hidup). Tips-tips mendaki gunung buat pendaki pemula berikut mungkin sedikit membantu persiapan pendakian gunung tersebut.
Tips Mendaki Gunung untuk Pemula. Untuk mendaki gunung, beberapa hal (tips) yang harus diperhatikan antara lain:
  • Perencanaan pendakian
Tips pertama adalah melakukan perencanaan pendakian dengan matang. Pemilihan lokasi, rute pendakian, kondisi cuaca, jumlah pendaki, jangka waktu, akan mempengaruhi perbekalan dan peralatan yang musti dipersiapkan. Jangan lupa untuk mendapatkan ijin resmi dari pihak-pihak terkait (termasuk orang tua atau pacar).
  • Kesiapan fisik dan mental
Tips selanjutnya adalah mempersiapkan fisik dan mental seperti dengan melakukan olah raga secara rutin.
  • Penguasaan medan dan rute
Penguasaan medan dan rute merupakan sebuah hal yang sangat penting. Paling tidak dalam satu kelompok pendakian gunung musti ada lebih dari satu orang yang benar-benar telah menguasai medan dan hapal rute pendakian.
  • Perlengkapan yang mencukupi tapi tidak memberatkan
Membawa perlengkapan yang mencukupi merupakan tips selanjutnya. Perlengkapan hendaknya disesuaikan dengan lokasi, rute, jangka waktu, jumlah pendaki dan kondisi cuaca. Namun beberapa peralatan yang sangat penting diantaranya; tas rangsel khusus pendaki (carrier), sepatu trekking, jaket, jas hujan, matras, sleeping bag (kantong tidur), baju ganti, senter dan alat penerangan, korek api, tenda, kantong plastik, kompor dan peralatan masak mini, alat komunikasi (seperti hape), tempat air, dan peralatan survival dan obat-obatan.
Tips dalam memasukkan peralatan dalam carrier (tas rangsel) hendaknya dengan komposisi barang yang paling berat di posisi atas sedangkan barang yang lebih ringan di bagian bawah. Pengaturan ini berguna agar pada saat ransel digunakan, beban terberat berada di pundak, bukan di pinggang hingga memudahkan kaki melangkah saat pendakian gunung
Barang-barang bawaan sbelum dimasukkan tas dibungkus dahulu dengan menggunakan kantong plastik. Tips ini untuk mencegah barang menjadi basah (berfungsi sebagai lapisan anti air) atau tercampur dengan peralatan atau pakaian kotor dan basah yang telah dipergunakan.
  • Bahan makanan yang mencukupi
Tips membawa makanan dalam mendaki gunung juga penting. Bawalah makanan yang ringan, ringkas namun cukup mengandung kalori. Juga bahan makanan yang cepat dimasak. Jangan membawa dan mengonsumsi minuman beralkohol karena meskipun hangat namun minuman beralkohol dapat memicu pecahnya kapiler darah karena terlalu cepatnya kapiler darah memuai dalam tubuh.
  • Memperoleh izin dan melapor pada Pos Pendakian
Sebelum pendakian dilakukan musti melapor dan memperoleh izin dari pihak-pihak terkait terutama di Pos Pendakian. Di pos pendakian ini, isilah buku tamu dengan mencantumkan lama pendakian, alamat lengkap dan nomor telepon keluarga atau teman yang dapat dihubungi bila terjadi musibah di gunung. Setelah kembali (turun) dari mendaki gunung jangan lupa untuk melapor kembali ke Pos Pendakian.
  • Tidak merusak alam
Menikmati keindahan alam tanpa merusak atau menyakiti alam tentu akan semakin indah. Karena itu selama pendakian hindari perbuatan-perbuatan yang dapat merusak keindahan dan keseimbangan alam seperti melakukan aksi coret-coret (vandal), menebang tumbuhan sembarangan, menangkap hewan, memetik bunga (seperti edelweiss), maupun membuang sampak nonorganik.
Sampah, terutama sampah plastik yang dihasilkan selama pendakian hendaknya dikumpulkan dalam kantong plastik dan dibawa turun gunung dan dibuang di tempat sampah di Pos Pendakian. Tips ini sesuai dengan semboyan yang biasanya dipegang oleh pencinta alam; jangan pernah meninggalkan apapun di gunung kecuali tapak kaki dan kenangan.
Jika selesai menyalakan api unggun, matikan hingga betul-betul padam termasuk bara apinya dengan menyiram air atau menutupnya dengan tanah. Juga ketika membuang putung rokok, matikan dulu bara apinya. Ini untuk menghindari terjadinya kebakaran hutan.
Dengan melakukan tips-tips mendaki gunung di atas, pendakian yang dilakukan meskipun oleh pemula dapat terlaksana sesuai harapan dan terhindarkan dari hal-hal yang tidak diinginkan seperti tersesat ataupun terkena hipotermia. Karena pada prinsipnya, sebuah pendakian gunung bukanlah sekedar untuk mencapai puncak gunung belaka, namun juga musti mampu kembali pulang.
Tips mendaki gunung untuk pemula ini beberapa kali saya sampaikan dalam latihan dasar pecinta alam dengan koreksi di sana-sini. Mungkin terdapat beberapa penggalan tips yang mirip artikel di situs lainnya yang sudah saya lupa alamatnya.

Oct 5, 2011

Bapak Pramuka Indonesia


Sri Sultan Hamengkubuwono IX
SIAPAKAH BELIAU ?
Sri Sultan Hamengkubuwono IX ( Sompilan Ngasem, Yogyakarta, 12 April 1912 -
Washington, DC, AS, 1 Oktober 1988 ) adalah seorang Raja Kasultanan Yogyakarta
dan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta. Beliau juga Wakil Presiden Indonesia
yang kedua antara tahun 1973-1978. Beliau juga dikenal sebagai Bapak Pramuka
Indonesia, dan pernah menjabat sebagai Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka.
Biografi
Lahir di Yogyakarta dengan nama GRM Dorojatun pada 12 April 1912, HamengkubuwonoIX adalah putra dari Sri Sultan Hamengkubuwono VIII dan Raden Ajeng Kustilah. Diumur 4 tahun Hamengkubuwono IX tinggal pisah dari keluarganya. Dia memperoleh pendidikan di HIS di Yogyakarta, MULO di Semarang, dan AMS di Bandung. Pada tahun 1930-an beliau berkuliah di Universiteit Leiden, Belanda (“SultanHenkie”).
Hamengkubuwono IX dinobatkan sebagai Sultan Yogyakarta pada tanggal 18 Maret 1940 dengan gelar “Sampeyan Dalem Ingkang Sinuwun Kanjeng Sultan HamengkubuwonoSenopati Ing Alogo Ngabdurrokhman Sayidin Panotogomo Kholifatulloh Ingkang Kaping Songo”. Beliau merupakan sultan yang menentang penjajahan Belanda dan mendorong kemerdekaan Indonesia. Selain itu, dia juga mendorong agar pemerintah RI memberi status khusus bagi Yogyakarta dengan predikat “Istimewa”. Sejak 1946 beliau pernah beberapa kali menjabat menteri pada kabinet yang dipimpin Presiden Soekarno. Jabatan resminya pada tahun 1966 adalah ialah Menteri Utama di bidang Ekuin.
Pada tahun 1973 beliau diangkat sebagai wakil presiden. Pada akhir masa jabatannya pada tahun 1978, beliau menolak untuk dipilih kembali sebagai wakil presiden dengan alasan kesehatan. Namun, ada rumor yang mengatakan bahwa alasan sebenarnya ia mundur adalah karena tak menyukai Presiden Soeharto yang represif seperti pada Peristiwa Malari dan hanyut pada KKN.
Minggu malam pada 1 Oktober 1988 ia wafat di George Washington University Medical Centre, Amerika Serikat dan dimakamkan di pemakaman para sultan Mataram di Imogiri.

Ujian SKU Dalam Gerakan Pramuka


”Kita tetap taat pada prinsip dasar pendidikan moral kepramukaan, tetapi kita harus memperbarui acara kegiatan kepramukaan yang sesuai dengan aspirasi generasi muda dan kebutuhan masyarakat saat ini”, (Sri Sultan Hamengku Buwono IX)
SEIRING kemajuan zaman, pergeseran nilai dalam kehidupan berlangsung tanpa bisa dicegah. Adalah naif bila gerakan pramuka sebagai wadah pendidikan nonformal bagi anak-anak dan remaja di tanah air tidak menyikapi perubahan ini. Yang harus dilakukan oleh gerakan pramuka tentunya bukan mencegah perubahan, tetapi berusaha menyesuaikan perubahan itu sehingga pramuka tidak ketinggalan zaman.
Salah satu wacana yang sekarang berkembang di kalangan pramuka adalah perlunya mengkaji ulang penerapan syarat-syarat kecakapan pramuka (SKU) sebagai salah satu prinsip dasar metodik pendidikan kepramukaan. Adalah Gubernur Jawa Barat sendiri, Kak Danny Setiawan selaku Ketua Majelis Pembimbing Daerah Gerakan Pramuka Jabar yang menyatakan bahwa sekarang ini sudah saatnya untuk merelevankan SKU agar sesuai dengan situasi dan kondisi saat ini (”PR” 10/7). Beliau mengusulkan agar Gerakan Pramuka melaksanakan reformasi secara komprehensif pada ujian SKU sehingga bisa mengundang minat para remaja untuk tertarik menjadi anggota pramuka.
Namun persoalannya, apakah memang SKU ini sudah ketinggalan zaman? Apakah benar SKU yang kurang relevan menyebabkan pramuka terpuruk seperti sekarang ini?
Jawaban pasti atas pertanyaan-pertanyaan itu seharusnya diupayakan Litbang Kwartir Nasional. Yang jelas, sesuai S.K. Kwarnas No. 088 Tahun 1974, SKU merupakan garis-garis besar program pembinaan pramuka yang harus dilaksanakan oleh para pembina secara optimal, terarah, dan benar-benar dapat dipertanggungjawabkan karena merupakan proses pendidikan untuk mencapai tujuan Gerakan Pramuka.
Sedangkan bagi peserta didik, mengikuti ujian SKU adalah suatu hal yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Ujian SKU untuk semua tingkat dan golongan pramuka baik itu Siaga, Penggalang, Penegak maupun Pandega merupakan tantangan tersendiri yang harus dihadapi mereka dengan upaya sungguh-sungguh sehingga kelak mereka menjadi manusia yang berkepribadian tinggi, berwatak luhur, cerdas, terampil, dan juga menjadi warga negara yang berpancasila yang setia dan patuh kepada NKRI (AD Pramuka Pasal 4). Maka oleh karena itu, seandainya butir-butir ujian SKU ini dilaksanakan dengan tepat, terarah, dan jujur, serta tidak dimanipulasi, diharapkan peserta didik akan menjadi pribadi-pribadi yang cageur, bener, bageur, pinter, jeung singer.
Sayangnya, secara jujur harus diakui bahwa selama ini pelaksanaan ujian SKU digugus depan pramuka untuk semua tingkat dan golongan ditengarai masih jauh dari harapan. Banyak hambatan dan kendala yang ditemui di lapangan sehingga akibatnya ujian SKU belum dilaksanakan secara optimal.
Berdasarkan pengamatan penulis yang pernah aktif di Andalan Cabang/Ranting selama ini diperoleh kesan masih banyak pembina pramuka yang belum mengacu sepenuhnya kepada ”kurikulum” pembinaan pramuka yang disebut SKU ini. Cara menguji SKU di kalangan pembina juga tampak kurang seragam.
Alih-alih direvisi, perekrutan pembina pramuka di pangkalan gugus depan sekolah juga masih harus dibenahi. Akibat ”asal-asalan” mengangkat pembina, sudah dapat dipastikan apa-apa yang disampaikan kepada peserta didik akan menjadi kurang menarik dan cenderung membosankan. Padahal seyogianya materi yang disampaikan oleh pembina harus dikemas secara kreatif dan inovatif sehingga menjadi kegiatan yang menarik, mendidik, menyenangkan, dan berkesan sepanjang hidupnya.
Sehebat apa pun SKU, bila tidak dibarengi dengan kemauan keras dan kesadaran tinggi para peserta didiknya untuk menempuh SKU dengan sungguh-sungguh, Gerakan Pramuka akan tetap terpuruk seperti sekarang ini. Oleh karena itu, tekad untuk menjadikan Provinsi Jawa Barat sebagai provinsi pramuka seyogianya ditindaklanjuti. Bukan hanya dengan meningkatkan terus jumlah anggotanya, melainkan juga harus diperhatikan usaha untuk meningkatkan kualitas peserta didiknya.*** 
Oleh Drs. Usman Atmadimaja mg
Penulis, Pembina Pramuka di MA. Darussalam Sumedang (Harian Pikiran Rakyat

Pramuka Media Pendidikan di Alam Terbuka


Anggaran Dasar Gerakan Pramuka menargetkan bahwa upaya dan usaha untuk mencapai tujuan Gerakan Pramuka adalah diarahkan pada pembinaan watak, mental, emosional, jasmani, bakat, serta peningkatan iman dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
 Kepramukaan ialah proses pendidikan luar lingkungan sekolah dan di luar keluarga dalam bentuk kegiatan menarik, menyenangkan, sehat, teratur, terarah, praktis, yang dilakukan di alam terbuka dengan prinsip dasar kepramukaan dan metode kepramukaan, yang sasaran akhirnya pembentukan watak.
Melihat uraian di atas, jelas bahwa kegiatan kepramukaan adalah kegiatan menarik yang dilakukan di alam terbuka. Kegiatan ini merupakan salah satu ciri khas pelaksanaan kegiatan Pramuka yang membedakan kegiatan tersebut dengan kegiatan di luar kepramukaan.
Bagaimana tidak, saat ini ada sebagian gugus depan yang melaksanakan kegiatan kepramukaan terpaku dilaksanakan di lingkungan sekolah, bahkan untuk kegiatan berkemah pun dilaksanakan di sekolah, dengan menggunakan ruang belajar sebagai arena kegiatan.
Padahal, kegiatan berkemah merupakan kegiatan yang sangat digemari para peserta didik, apalagi menjelang liburan bahkan pada saat liburan sebagai agenda kegiatan yang telah disiapkan oleh peserta didik, di sela-sela acara keluarga ataupun acara lainnya.
Sebenarnya, kegiatan perkemahan merupakan kegiatan di alam terbuka yang kebanyakan dilakukan di hutan, pegunungan, pantai, ataupun tempat lain yang layak dipergunakan untuk berkemah.
Dalam kegiatan kepramukaan, berkemah merupakan salah satu syarat yang tercantum dalam SKU. Hal ini menjadi keharusan bagi peserta didik untuk melakukan perkemahan agar bisa menempuh SKU tersebut. Dengan kata lain, peserta didik harus bisa bersatu dengan alam, di mana dalam acara perkemahan tersebut peserta didik bisa melaksanakan kegiatan berupa penjelajahan, mendaki gunung, berenang, memancing, serta mempelajari atau mengambil gambar/foto flora dan fauna yang ada di sekitar perkemahan.
Maka, kalau kegiatan perkemahan dilaksanakan di sekolah rasanya kurang mencapai sasaran yang telah ditetapkan kecuali untuk golongan siaga. Karena, dengan melakukan kegiatan perkemahan di alam terbuka, seperti bumi perkemahan, hutan, dll. peserta didik akan diberikan tantangan oleh keadaan alam sekitarnya. Hambatan dan rintangan tidak ada yang tidak bisa dikerjakan, semua kesulitan harus bisa diselesaikan.
Selain itu, kegiatan kepramukaan yang selalu dilaksanakan di lingkungan sekolah merupakan suatu kejenuhan bagi peserta didik sehingga lama-lama peserta didik akan merasa bosan dan malas mengikuti kegiatan latihan, karena setiap saat baik latihan pramuka maupun belajar tempatnya selalu begitu saja, atau di tempat itu-itu saja tidak ada variasi.
Jadi, tidak salah apabila kita membuat rencana latihan dengan menggunakan alam terbuka sebagai media latihan. Karena sudah jelas disebutkan bahwa kepramukaan adalah kegiatan yang dilaksanakan di luar sekolah ataupun lingkungan keluarga yang dilaksanakan di alam terbuka. Dengan demikian, kegiatan kepramukaan khususnya kegiatan perkemahan dilakukan di luar lingkungan sekolah, dalam arti di alam terbuka sebagai tujuan untuk mendidik dan membina peserta didik agar mereka bisa survive/bertahan di alam dengan segala macam rintangan, hambatan, dan alakadarnya yang ada pada dirinya. Dengan melakukan kegiatan di alam terbuka, peserta didik diharapkan terhindar dari kejenuhan akan rutinitas kehidupan sehari-hari.
Dengan kegiatan di alam terbuka, peserta didik bisa bersatu dengan alam, dan alam terbuka akan memberikan banyak pelajaran bagi peserta didik. Oleh karena itu, sangat tepat kalau salah satu media yang efektif membentuk kepribadian seorang Pramuka adalah alam semesta. Dia bisa hidup dan bertahan dengan alam karena alam akan bersahabat dengan kita apabila kita mau melestarikan dan menjaganya dari usikan-usikan tangan jahil yang tidak bertanggung jawab.
Oleh NANAN KUSTIATI, S.Pd.
Penulis, Pembina Satuan Tegak Gudep KB 21006

Mengapa Pramuka Sinarnya Semakin Redup?


Kalau ditanya mengapa banyak anak tidak atau kurang suka lebih tepatnya dengan ekstrakulikuler Pramuka adalah pertanyaan retoris karena sesungguhnya Pramuka yang saya kenal selama ini adalah suatu program sekolah yang saya pikir sebagai ekstra yang terlalu dibesar-besarkan keberadaannya apa lagi ekstra ini juga diwajibkan namun atas dasar apa saya juga tidak begitu tahu mungkin sebagai formalitas atau untuk menggali dana untuk kas OSIS atau mungkin yang lain saya kurang begitu tahu.
Setiap siswa selalu bertanya pada dirinya masing-masing apa sebenarnya fungsi dari Pramuka yang diwajibkan oleh sekolah itu. Apa lagi peminat yang benar-benat serius pada Pramuka bila dihitung sangatlah sedikit sekali dibandingkan ekstra yang lain. Kalu saja Pramuka tidak diwajibkan mungakin siswa yang antusias sangatlah sedikit sekali dibanding ekstra yang tidak wajib lain yang anggotanya begitu antusias dan loyal terhadap ekstra yang mereka pilih dan mereka anggap sangat bermafaat bagi diri mereka.
Mereka (para siswa kelas X) selalu bertanya-tanya mengapa Pramuka harus diwajibkan apakah pemerintah menyusun Undang-Undang tentang diwajibnya Pramuka disetiap sekolah di Indonesia, kalau pun iya mungkin masih bisa dimaklumi keberadaannya karena pemerintah membuat sesuatu pasti ada tujuan yang jelas karena menyangkut kepentingan masyarakat serta pendidikan secara luas di seluruh Indonesia. Sedangkan bagaimana kalau tidak, apa tujuan yang jelas sekolah sebenranya selalu menjadi pertanayan tak terjawab oleh setiap siswa yang merasa terbebani oleh Pramuka.
Bila Pramuka adalah sebagai cara atau wadah untuk mengembangkan kemampuan berorganisasi adalah kurang maksimal karena pada mulanya mereka sudah tidak berminat untuk mengikuti. Bagai mana mugkin mereka bisa mendapatkan pelajaran dari itu kalau tidak didasari dengan niat. Kalau pun Pramuaka sebagai pengembang jiwa berorganisasi mungkin kalimat itu ditujuakan kepada KOJARSENA yang sebagai BPH utama dalam kegiatan-kegiatan pramuka karena hampir seluruh kegiatan pramuka ditangani oleh mereka yang mengaku sebagai KOJARSENA. Tapi kadang tanggung jawab itu sering disalah gunakan sebagai ajang balas dendam atau melampiaskan kemarahan kepada kelas X. Bukankan sebenarnya mereka sudah tahu kalau remaja tidak begitu suka dikerasi karena mereka nanti tidak peduli dengan kesalahan mereka atau mungkin malah kelakuan mereka semakin menjadi-jadi. Mungkin itu juga selah satu sebab mengapa mereka tidak mau datang ke sekolah untuk mengikuti organisasi dimana merka harus dipaksa dan dimarahi padahal belum tentu orang tua mereka pernah memarahi mereka.
Berbeda dengan organisasi non wajib seperti PMR contohnya mengapa anggotanya begitu banyak padahal sekolah dan pemerintah tidak pernah mewajibkan siswa utuk ikut PMR. Di PMR baik kelas X, XI, maupun XII selalu berkerjasama dalam mencapai tujuan tertentu yang jelas seperti akan adanya peristiwa penting bagi PMR yaitu GHO yang memerlukan dana yang tidak sedikit jumlahnya namun dengan itu kelas X juga diikutkan dalam proses gali dana sampai persiapannya sehingga mereka merasa berarti didalamnya. Sebenarnya Pramuka haruslah lebih terbuka seperti PMR sehingga tidak ada jurang pemisah antara kelas X dan XI. Bukannya saya membadingkan PMR dan Pramuka namun apa selah nya kalau itu dicoba dahulu.
Lalu apa yang mereka dapat dari seseuatu yang mereka benci namun mereka harus masuk dan mengikutinaya. Mereka datang pukul 15.00 lalu pulang pukul 17.00. Selama ±2 jam apa sebenarnya yang mereka dapat dari itu semua kalu mereka juga tidak menghendakinya. Mereka datang dengan pakaian lengkap khas Pramuka tapi adakah niat untuk mengikuti pramuka atau hanya untuk memenuhi kewajiban agar nilai raport mereka tidak ternoda oleh ketidak hadiran dalam Pramuka. Kita tanya kepada setiap siswa yang mengikuti pramauka apa mereka mengenal Boden Powel mungkin mereka cuama tahu dia adala pendiri Pramuka tidak lebih, tahukan mereka tentang perkembangan pramuka, penerapan Pramuka, panegamalan Pramuka di masayarakat, fungsi dari Pramuka, arti lambang Pramuka, saya yakin mereka menjawabnya tidak lebih dari tiga kalimat sisanya mereka tidak tahu jawabannya.
Bukankah sesungguhnaya Pramuka mendidik siswa agar bisa melakukan segalanya dengan mandiri namun apakan yang demikian itu bisa terealisasikan atau sebagai mission impossible yang takakan pernah tercapai. Namun kenyataanya kegiatan pramuk malah disalah gunakan fungsinya. Kalau pramuka untuk mendidik agar siswa bisa mengauasai segala hal itu salah besar karena kalu begitu apa fungsi ekstra non wajib seperti PMR, PASKI, Jaga Bhumi, PKS, dan lain-lain. Bukankan setiap orang tidak lah sempurna, mereka cuma bisa menguasai satu atau dua hal saja sehingga mereka bisa maksimal meggunakan kemampuannya.
APA PEMECAHANNYA?
Dari masalah ditas dita bisa menarik kesimpulan bahwa sesungguhnya para siswa megapa tidak begitu antusias karena mereka kurang mengetahui apa makna sesungguhnya dari Pramuka serta fungsinya bagi diri mereka dan masyarakat luas. Dengan kita tahu sebabnya maka kita bisa menaggualangi akibatnaya.
Pertama mungkin bisa ditanamkan pada diri mereka pengertian, makna, dan fungsi utama dari Pramuka yang selama ini menjadi momok bagi scout hater. Sehinga mereka tahu apa sebabnya mereka diwajibkan untuk melakukan sesuatu, seperti kita kalau bertanya mengapa kita diwajibkan untuk beribadah kepada Tuhan YME karena untuk berterimaksih kepada-Nya karena nikmatnya dan riskinya yang diberika pada kita, tapi ibadah disini bukan lagi sebagai sebuah kewajiban namun sebuah kebutuhan yang setiap hari harus dipenuhi setiap hari. Semoga Pramuka bukanlah hanya sebagai sebuah kewajiban atau formalitas sekolah yang harus dilakksanakan namun menjadi sebuah kebutuhan seorang murid untuk menjadikanya seorang yang berguna bagi diri sendiri dan orang lain dimana pun dia berdada selama membawa panji-panji Pramuka.
Kemudian karena diwajibkannya Pramuka apakah lebih baik kalau pramuka dimasukkan dalam ahir pelajaran sekolah sehingga siswa bisa langsung memakai seragam pramuka pagi-pagi, karena salah satu faktor ketidak hadiran merka karena kebanyakkann tempat tinggal siswa berada di luar kota Salatia. Dengan memasukan Praumuka pada ahir sekolah maka bisa mengurangi ketidak hadiran bahkan siswa bisa seluruhnya tiba disekolah tanpa harus pulang ke rumah terlebih dahulu.
Demikianlah sebab-sebab banyaknya ketidak hadiran siswa dalam Pramuka dan solusinya yang semoga berguna sehingga masalah ini bisa teratasi dan pramuka tidak lagi menjadi momok bagi siswa namun menjadi wadah yang bisa mengarahkan mereka untuk menemukan jati diri mereka sesungguhnya.
Penulis : Syifa FM

Mengapa Pramuka Berkemah ?


Salam Pramuka!
Keberadaan Gerakan Pramukadipandang merupakan suatu gerakan kepemudaan yang diproyeksikan untuk membentuk mental pemuda menjadi sosok yang migunani sesuai dengan tingkat umur dan kecakapan yang telah ditempuhnya.
Sayangnya paradigma itu kini telah mengalami pergeseran seiring dengan munculnya kegiatan yang senada dengan tanpa uniform dan aturan yang jelas yang mungkin membuat membernya tidak bebas. Lain halnya dengan Gerakan Pramuka yang memiliki AD dan ART yang jelas dan disyahkan oleh pemerintah, memiliki kepengurusan yang juga jelas mulai dari gugus depan sampai Nasional.
Fenomena yang terjadi pada lapisan paling depan -yang saya maksud adalah gugus depan-, sangat dipengaruhi oleh minat atau peran Kepala Sekolah yang menjabat sebagai Ketua Majelis Pembimbing Gudep (eks oficio) melekat pada jabatannya. Sehingga seberapa banyak pemahaman seorang Kepala Sekolah sangat berpengaruh terhadap kegiatan (baca : perkembangan) kepramukaan di gugus depannya. Jika seorang Kepala Sekolah pernah mengalami president buruk selama menjadi peserta didik (terutama kaitannya dengan kepramukaan) maka hal ini akan berpengaruh pada policynya terhadap kegiatan kepramukaan di sekolah yang dipimpinnya. Jadi kalau boleh saya katakan jika Kepala Sekolah tidak suka dengan gerakan pramuka maka praktis tak akan ada ijin untuk berkegiatan, entah mungkin dianggap kegiatan yang tidak berguna, latihaaan terus kapan prakteknya?, menghambur-hamburkan uang dan masih seabrek alasan lain untuk meniadakan kegiatan kepramukaan.
Sayangnya lagi seorang Kepala Sekolah tak juga merasa penasaran untuk meluruskan pemahamannya dengan mencari tahu aturan yang benar tentang kepramukaan itu. Sepertinya apriori yang salah tetap menjadi pegangan bagi dirinya kalau Pramuka itu tidak bermanfaat.
Saya sangat merasa prihatin melihat kenyataan sekarang ini, ketika peserta didik justru dibiarkan menganggur tanpa diisi dengan hal yang lebih bermanfaat. Atau memberikan peluang beraktifitas tetapi tidak memahami rambu-rambunya, jadi semua di’iya’ni saja tidak dibenarkan apabila salah.
Lho kok jadi Kepala Sekolah yang ketiban palu ya? Itulah realitas!
Kemah, kenapa sih kemah segala?
Kebetulan saya adalah salah satu pramuka yang mendapatkan pendidikan kepramukaan sejak siaga sampai dengan pandega sesuai dengan didaktik metodik kepramukaan, jadi tak ada mindset miring di kepala saya, dari kegiatan gugus depan, ranting, cabang, daerah dan nasional sudah saya alami, jadi ya lumayan lengkap buat referensi khususnya untuk diri saya sendiri.
Salah satu kegiatan yang merupakan kegiatan besar adalah kemah, entah itu persami, kemah bhakti, ataupun kemah lainnya. Biasanya perkemahan diadakan sebagai penutupan kegiatan selama satu tahun, atau rutinitas lainnya. Materinya pun disesuaikan dengan tingkat kompetensi yang perlu dikuasai. Biasanya merupakan penilaian dari kegiatan yang sudah dilaksanakan selama satu tahun berjalan.
Sayangnya, kegiatan perkemahan juga sangat dipengaruhi oleh pengalaman atau jam terbang para sangga kerjanya dan pembinanya. Kualitas kegiatan, nilai-nilai yang ditanamkan, pengaturan jadwal, layout bumi perkemahan, tata administrasi, satuan terpisah, diversifikasi kegiatan dan lain lain.
Banyak manfaat yang dapat dimaknai dari kegiatan kemah, diantaranya :
A. Bagi Peserta Didik
  1. Melatih kemandirian, tanggung jawab, kerja sama, empati, disiplin.
  2. Berani dipimpin dan memimpin
  3. Membiasakan diri mendahulukan kepentingan bersama daripada individu
  4. Melatih mengendalikan emosi, karena semua capek, lapar dan ngantuk
  5. Melatih diri menahan hawa sombong, congkak, iri, pamer
  6. Latihan hidup sederhana
  7. masih banyak lagi yang lain
B. Bagi Sangga Kerja :
  1. Melatih ketrampilan memimpin
  2. Melatih mengatasi masalah, konflik
  3. Melatih mengelola dan mengatur orang lain
  4. Bertanggung jawab terhadap jadwal yang sudah direncanakan
  5. Berlatih berkomunikasi dengan masyarakat, mempraktikkan ilmu administrasi, tata tulis, logika
  6. Masih banyak lagi yang bisa diperoleh
Sebagai seorang pembina pramuka kita juga dapat menilai seperti apa sebenarnya kepribadian anak/peserta didik. Karena pada saat berkemah akan nampak seperti apa sejatinya seseorang itu. Yang biasa bersolek, maka dia juga hanya akan bersolek, yang biasa membantu orang tua di rumah, maka dia pasti dapat menyelamatkan teman-temannya dari kelaparan, yang biasanya teriak lapaaaarrrrrrrr, ya ketika dia tak kebagian nasi maka dia juga hanya akan menangis kelaparan bukannya nyalain kompor untuk masak. Tak lupa pula yang biasa ngebo maka diapun akan tertidur dengan dengkurannya.
Lantas bagaimana membuat acara berkemah dapat berkesan?
Sebaiknya, kegiatan kemah perlu dipersiapkan dengan matang, tak cuma yang penting kemah!
Dalam berkemah seharusnya eh sebaiknya merupakan kegiatan penilaian atau evaluasi terhadap kegiatan latihan yang telah ada, bukan arena perpeloncoan, atau arena gojlokan!
Sangga kerja harus mampu memilih jenis kegiatan yang mampu mengekplorasi kompetensi regu/sangganya. Misalnya kegiatan pentas seni. Bagaimana upaya sangga kerja agar para peserta kemah sudah mempersiapkan dengan baik jenis pentas yang akan dipentaskannya kelak. Biasanya acara api unggun -yang merupakan puncak acara- akan dihadiri oleh warga sekitar bumi perkemahan untuk menonton pentas seni. Jadi harus dibuat meriah dan tentunya tingkat keamanannya juga siaga penuh!
Tak heran acara api unggun selesai paling cepat pukul 12 malam, nah karena acara ini betul-betul merupakan acara untuk melepas penat, lelah selama berkemah, istilahnya cooling down! Lha kalau ada acara api unggun kok selesai jam 21 lantas dimana suguhan untuk masyarakatnya ya? Berarti tak ada kreatifitas seni yang dilatih kalau begitu!
Sayangnya lagi kadang-kadang orang yang belum pernah mengikuti kemah yang ‘benar’ turut andil dalam menentukan acara, jadi kegiatannya tidak berkualitas!
Memang akhirnya karena begitu besar manfaat berkemah dilakukan, maka tak heran semua pangkalan gugus depan berupaya bagaimana caranya bisa berkemah, seyogyanya kakak-kakak pembina berusaha mencari tahu seperti apa to berkemah yang sesuai dengan paugerannya Gerakan Pramuka, agar kita memberikan ilmu yang benar kepada peserta didik dan mereka tak memiliki mindset yang buruk tentang pramuka.
Semoga Bermanfaat!
Penulis : Sri Winarti

PRAMUKA TINGGAL KENANGAN


Akankah Gerakan Pramuka yang besok (14 Agustus 2010) merayakan ulang tahun ke-49 sekadar kenangan? Banyak pihak berharap agar Gerakan Pramuka menjadi kendaraan penggemblengan anak bangsa dan pilar pendidikan karakter kebangsaan.
Gerakan Pramuka, sebagai salah satu wadah pendidikan kepramukaan yang mengutamakan satya darma dan kode kehormatan merupakan benteng pencegah masuknya pelunturan nilai kehidupan seperti ketidakjujuran, korupsi, apatis, asosial, manipulatif, dan sebagainya.
Hal itu diakui oleh mereka yang pernah digembleng dalam wadah Gerakan Pramuka. Bahkan, mereka merindukan hal yang pernah dialami juga dialami oleh anak-anaknya. Hanya, saat ini sepertinya Gerakan Pramuka hilang ditelan bunyi akibat pengaruh berbagai hal yang mampu menutupi peran strategis Gerakan Pramuka.
Pengaruh buruk bagi Gerakan Pramuka disebabkan pertama, pengelolaan organisasi kepramukaan satu-satunya itu masih banyak yang mengalir statis, dan klasik. Jika 20 tahun yang lalu pengelolaan kepramukaan berjalan seperti itu, saat ini, kepramukaan juga dikelola seperti itu juga. Dalam kepramukaan terlihat tanpa perubahan, tanpa gairah, dan tanpa suasana baru. Hal itu dapat dibuktikan melalui kesamaan pola pengelolaan dan kegiatan dari dulu sampai sekarang.
Ketua Gerakan Pramuka sejak dahulu selalu dijabat oleh pejabat setempat yang kesibukan di kantornya menumpuk, sehingga kurang perhatian terhadap berjalannya pengelolaan organisasi. Pada ujungnya, Gerakan Pramuka dikelola dengan cara sambilan. Apalagi, pendanaan kepramukaan banyak yang hanya sebagai pelengkap semata. Masih banyak kwartir cabang yang hidupnya dari dana pelengkap dan bergantung pada jumlah bantuan yang minimal yang diberikan tanpa kepastian dan ketetapan.
Kedua, rendahnya kepedulian orang dewasa saat ini dalam membangun generasi muda dibandingkan dengan orang tua yang dahulu membesarkan orang dewasa itu. Lihat saja, dahulu ketika orang dewasa masih disebut anak-anak, para orangtua mereka memberikan fasilitas kegiatan yang lumayan bagus dan beragam, memberikan kesempatan berkemah, berkegiatan praktis. Saat ini, jarang orang dewasa yang gantian memerhatikan anak-anak sebagai tanggung jawab sebagai manusia penerus peradaban akibat kesibukan kerja. Saat ini, yang peduli pada Gerakan Pramuka hanya tinggal pembina pramuka semata, yang lainnya tidak peduli seperti waktu dulu.
Ketiga, pergeseran minat anak. Anak-anak saat ini lebih berminat dengan hal-hal yang praktis, instan, bebas, membanggakan, dan tidak terikat. Lihat saja, anak lebih senang dengan video game atau ponsel game sambil menyendiri di suatu tempat dalam waktu yang lama daripada harus berkegiatan yang mengeluarkan keringat, tenaga, dan gerakan. Padahal, nilai yang diperoleh bagi dirinya lebih banyak dari kegiatan di lapangan yakni kekuatan, keberhasilan, usaha, kejujuran, sosialisasi, daripada dari game yang hanya bernilai kecerdasan. Sebuah kewajaran jika anak-anak mempunyai sikap seperti itu karena pengaruh budaya yang melandanya.
Keempat, muatan kepramukaan kurang kemasan menarik. Banyak kegiatan kepramukaan yang hanya menarik sesaat bagi anak-anak yang mengikutinya. Setelah beberapa minggu, anak-anak menemukan kebosanan karena menu kegiatan tidak memberikan daya konstan yang menarik. Akibatnya, banyak pramuka yang keluar dari lingkaran pendidikan kepramukaan. Menu kegiatan tidak dikelola oleh pembina secara menarik dan menantang.
Kelima, pembina pramuka berkualitas sangat kurang. Saat ini, bisa dihitung dengan jari pembina pramuka yang berkualitas sesuai dengan kemampuannya. Kebanyakan tidak berlatarbelakang kepramukaan melainkan latar belakang keguruan karena banyak pembina pramuka yang berasal dari guru. Padahal, kepramukaan harus dikelola oleh pembina pramuka yang kuat pengalaman kepramukaannya. Anak-anak yang dulunya aktif di kepramukaan, setelah besar, tidak mau kembali ke pramuka untuk mengabdikan dirinya. Padahal, saat ini, banyak yang dulunya pramuka menjadi manajer, guru besar, direktur, pengusaha, pedagang, dan seterusnya. Ke mana mereka?
Kemasan Lebih Menarik
Kelima problema kepramukaan di muka mendesak untuk segera dipecahkan oleh berbagai kalangan jika tidak mau Gerakan Pramuka hanya tinggal kenangan. Solusi yang diharapkan mengembalikan jati diri Gerakan Pramuka sebagai berikut. Pertama, revitalisasi Gerakan Pramuka dijalankan dengan secara matang, nyata, dan kuat. Perencanaan berdasarkan fakta di lapangan yang dilakukan untuk menunjang pelaksanaan sesuai perkembangan zaman. Revitalisasi menjadi sebuah keharusan.
Kedua, kesadaran orang dewasa, baik itu orang tua, pejabat, dan masyarakat harus bersatu padu membangun wadah pendidikan yang cocok bagi anak-anaknya yang kelak meneruskan kehidupan ini. Kepedulian itu harus tulus bukan kepedulian yang seakan-akan atau seolah-olah.
Ketiga, kemasan dan penyesuaian aktivitas kepramukaan terhadap kondisi dan situasi anak-anak sangat diperlukan. Semua aktivitas dikemas dengan nuansa yang menarik, menantang, praktis, membanggakan, dan bertujuan dalam konteks kekinian. Dunia anak sekarang memang berbeda dengan dunia anak dulu. Kondisi perbedaan dunia anak-anak itulah yang harus diperhatikan.
Keempat, perbanyak pembina pramuka yang berkualitas melalui berbagai kesempatan. Kesempatan untuk menjadi pembina pramuka harus diperluas tidak sebatas dari kalangan guru, tetapi disebar ke semua kalangan. Misalnya, pelatihan pembina pramuka dibuka untuk karyawan, manajer perusahaan, dan profesi lainnya. Memang selama ini pembina pramuka terbuka untuk umum. Hanya saja, kepedulian dari pimpinan perusahaan, perkantoran belum muncul untuk itu.
Bagaimanapun, Gerakan Pramuka harus bertahan dengan luka yang teramat menganga demi generasi muda bangsa ini. Minimal, masih ada generasi yang dibesarkan dari wadah pendidikan nilai dan sikap yang senyatanya. Pada kondisi bangsa yang penuh penyimpangan ini, tentu, Gerakan Pramuka menjadi wadah strategis dalam mencegah penyimpangan itu.
Penulis : Dr Suyatno MPd
Dosen Pascasarjana, Universitas Negeri Surabaya

Mengapresiasi Pramuka Luar Biasa


Sebagian besar dari kita pernah merasakan manfaat dari kegiatan praja muda karana (pramuka) tetapi hanya sebagian kecil yang tahu persis potensi dan manfaatnya. Faktor penyebabnya beragam, mulai faktor eksternal persepsi publik tentang gerakan pramuka yang (hanya) sekadar tepuk-tepuk tangan hingga faktor internal seperti minimnya publikasi kegiatan pramuka di media massa.
Bahkan sedikit orang yang tahu bahwa pada usianya yang ke-50 pada tahun ini, Gerakan Pramuka Indonesia (Indonesia Scout Movement-http://www.pramuka.or. id/) merupakan satu-satunya gerakan kepanduan di Indonesia seperti diatur dalam UU Nomor 12 Tahun 2010 tentang Gerakan Pramuka.
Dengan potensi SDM yang lebih beragam, publik boleh berharap ke depan kita akan melihat wajah anggota pramuka yang lebih baik. Sebagai lembaga pembentuk karakter, pramuka mempunyai beberapa potensi yang tidak banyak diketahui oleh publik secara luas. Salah satunya adalah pramuka luar biasa (PLB).
Pramuka luar biasa adalah sebutan bagi anggota pramuka yang berkebutuhan khusus, berbeda dari pramuka ’’biasa’’. Penyelenggaraan kegiatan PLB bernaung di bawah gugus depan luar biasa. Baik yang melingkupi semua jenis ketunaan, atau hanya satu jenis ketunaan tergantung spesifikasi masing-masing sekolah luar biasa (SLB). Pembina dan pedoman pembinaannya disesuaikan dengan masing-masing ketunaan. Bahkan syarat kecakapan khusus (SKU) pramuka luar biasa, disesuaikan dengan ketunaan masing-masing (PP Nomor 272 Tahun 1993).
Namun, jika ketunaan yang dimiliki tidak berat, kegiatan PLB dapat dilakukan dalam gudep terpadu dan inklusif, gudep biasa yang sebagian anggotanya pramuka berkebutuhan khusus atau mempunyai gangguan fisik, emosi, perilaku, dan sosial. Melalui gudep ini, pramuka luar biasa dididik secara sama bersama-sama anggota pramuka yang lain.
Di Jawa Tengah, sinergi semacam ini pernah dilakukan dalam Raimuna Daerah di Cilacap tahun 2009, karena perkemahannya juga melibatkan anggota pramuka luar biasa. Adanya gugus depan luar biasa membuktikan bahwa pramuka luar biasa juga mempunyai hak, kewajiban, peran, dan kesempatan yang sama untuk berkembang.
Minat atas Gerakan Pramuka memang selayaknya tidak dibatasi oleh keterbatasan yang dimiliki manusia, baik keterbatasan yang bersifat fisik, emosi, perilaku, maupun sosial. Selama seorang anak masih terhimpun dalam usia siaga, penggalang, penegak, pandega, statusnya tetap menjadi peserta didik pramuka.
Menyikapi Peluang
Salah satu SLB yang berhasil mengembangkan pramuka luar biasa sebagai pilihan kegiatan ekstrakurikuler adalah SLB Negeri Semarang. Sebagai lembaga pendidikan formal yang khusus mendidik anak-anak yang mempunyai kelainan, sekolah ini berhasil membuktikan bahwa di tengah keterbatasan itu tersimpan potensi luar biasa yang dapat digali oleh setiap orang.
Berbicara tentang pramuka luar biasa, kita mengenal beberapa kategori anak berkebutuhan khusus berdasar ketunaannya, antara lain tunanetra, tuna ungu-wicara, tunagrahita, tunadaksa, dan tunalaras. Dalam pramuka luar biasa pun, kategorinya dibedakan antara lain menjadi kelompok A (tunanetra), B (tunarungu), C (tunagrahita), D (tunadaksa), dan E (tunalaras). Pembedaan ini memengaruhi pola penyampaian materi kepramukaan.
Bagi anggota pramuka biasa, sandi hanya dimaknai sebagai media pembelajaran yang dapat melatih ketelitian, daya ingat, kecerdasan, dan konsentrasi. Sementara bagi pramuka luar biasa, sandi merupakan alat komunikasi yang nyata, bukan hanya sekadar simulasi. Bagi tunanetra misalnya, media yang paling efektif sebagai sarana pengirim pesan adalah suara. Maka proses transformasi materi dapat dilakukan dengan sandi morse melalui media peluit.
Berbeda halnya bagi anggota pramuka tunarungu dan wicara, yang menggunakan cahaya atau bahasa isyarat sebagai media komunikasi. Bagi kategori ini, materi kepramukaan seperti semafor mempunyai nilai tambah yang tidak dirasakan oleh pramuka biasa. Kesadaran akan potensi Gerakan Pramuka ini seharusnya terus diapresiasikan agar anggota pramuka lebih peka menyikapi peluang. (Sumber: Suara Merdeka, 4 Juni 2011).
Tentang penulis:
Rahmi Nuraini, anggota DKD Pramuka Kwarda 11 Jateng, alumnus Jurusan Komunikasi FISIP Undip

Menjaga Independensi Gerakan Pramuka


EKSISTENSI anggota praja muda karana (pramuka) menemukan babak baru terkait dengan UU Nomor 12 Tahun 2010 tentang Gerakan Pramuka. Regulasi itu terus disosialisasikan, termasuk di Jateng, dan pada 26 Maret 2011 Wapres Boediono didampingi Menpora Andi Alifian Mallarangeng dijadwalkan membuka sosialisasi berskala nasional itu di kampus Unnes, yang dihadiri sedikitnya 1.500 peserta. Pro dan kontra telah mewarnai lahirnya UU itu, baik ketika anggota DPR mengadakan studi banding ke Afsel, Jepang, dan Korea maupun saat membuat dan menyosialisasikan RUU Gerakan Pramuka.
Terlepas dari pro dan kontra, suka tidak suka, setuju tidak setuju, seluruh komponen dari berbagai strata keanggotaan dan kepengurusan Gerakan Pramuka harus mengucapkan selamat datang UU Nomor 12 Tahun 2010 dan selamat berpisah Keppres Nomor 238 Tahun 1961 tentang Gerakan Pramuka.
Undang-Undang tentang Gerakan Pramuka disusun untuk menghidupkan dan menggerakkan kembali semangat perjuangan yang dijiwai nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan masyarakat yang beraneka ragam dan demokratis. Regulasi itu menjadi dasar hukum bagi semua komponen bangsa dalam penyelenggaraan pendidikan kepramukaan yang bersifat mandiri, sukarela, dan nonpolitis dengan semangat Bhinneka Tunggal Ika untuk mempertahankan kesatuan dan persatuan bangsa dalam wadah NKRI.
Keputusan politik yang disepakati seluruh fraksi DPR pada 26 Oktober 2010 dalam sidang paripurna menunjukkan bahwa Gerakan Pramuka memang seksi dan memiliki daya pikat tinggi sehingga seluruh fraksi menyetujui disahkannya RUU Gerakan Pramuka menjadi UU, tanpa voting. Dalam konteks ini, semangat dan jiwa kepramukaan yang lebih mengedepankan musyawarah untuk mufakat telah dihayati dan dimaknai secara benar oleh anggota DPR.
Gerakan Pramuka memang layak didekati berbagai tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh profesi, ataupun tokoh lain dengan berbagai argumentasi demi kepentingan bangsa dan negara. Pendekatan tidak menafikan untuk kepentingan pribadi, kelompok, golongan, dan daerah masing-masing mengingat jumlah anggota Gerakan Pramuka mencapai puluhan juta orang.
Pendekatan itu bukan untuk mempolitisasi anggota pramuka melainkan menggarap secara maksimal sehingga tokoh-tokohnya dapat lebih berkiprah dalam mengabdikan dirinya kepada bangsa dan negara ini melalui gerakan itu. Jika Gerakan Pramuka yang hampir 50 tahun ini dipandang belum atau tidak memberikan kontribusi konkret serta sistem pendidikan dan pembinaannya tidak menarik, hal itu memunculkan pertanyaan pada diri penulis.
Tetap Nonpolitis Bukankah yang nanti hadir pada acara sosialisasi UU itu merupakan tokoh dan pimpinan daerah yang notabene pada usia mudanya (siaga/SD, penggalang/SMP, penegak/SMA, dan pandega/mahasiswa) pernah merasakan dan menikmati pendidikan  dan pembinaan Gerakan Pramuka?
Menjadi naif kalau mereka tidak mengakui success story dan benefit Gerakan Pramuka. Sifat kepemimpinan dan karakter pribadi yang baik dari peserta sosialisasi UU tersebut menjadi bukti riil.
Pertanyaan berikutnya, kalau Gerakan Pramuka pernah berjasa dalam membina nation and character building bagi alumni aktivis Gerakan Pramuka,  sejauhmana kontribusi dari masing-masing anggota dalam membesarkan dan meningkatkan kegiatan?
Upaya itu jauh lebih penting sehingga Gerakan Pramuka dapat mewarnai berbagai kegiatan yang dibutuhkan masyarakat, ketimbang sekadar kegiatan teknis kepramukaan seperti keplok-keplok, menyanyi, ’’pelajaran’’ tali-temali, dan perkemahan.
Kita dapat berkaca dari panggung dunia politik seperti dalam pilpres, pileg, atau pilkada.  Kita merasakan adanya berbagai benturan kepentingan baik berciri komunitas, keagamaan, profesi, maupun kewilayahan dan sebagainya yang justru merusak nilai-nilai persatuan dan kesatuan bangsa dan nilai-nilai luhur Pancasila.
Akhirnya UU Nomor 12 Tahun 2010 ditetapkan melalui keputusan politik DPR tetapi Gerakan Pramuka bukan kendaraan politik bagi anggota dewasa pramuka yang akan atau bahkan telah meniti  karier di bidang politik. Adakah yang menjamin Gerakan Pramuka tetap nonpolitis? Salam Pramuka! (10)
— Drs Sigit Djoko Sutomo,  mantan Andalan Daerah Kwarda 11 Jawa Tengah

Pramuka dan Krisis Kepemimpinan Pemuda


ADA hal yang sangat kontradiktif jika kita amati kualitas pemuda dan sistem pendidikan kita dalam beberapa waktu terakhir. Kriminalitas dan kenakalan remaja khususnya pelajar SMA sederajat meningkat tajam. Mulai dari tawuran, pemakaian narkoba, minuman keras, seks bebas bahkan kriminalitas. Di sisi lain, pelajar kita dan pemuda pada umumnya sangat “dimanjakan” oleh sejumlah kemudahan dan fasilitas penunjang. Teknologi informasi berbentuk telepon seluler dan internet seharusnya menjadi media pembelajaran tanpa batas. Beragam kegiatan ekstrakurikuler di sekolah dan les mandiri di rumah juga sangat lengkap, variatif dan berorientasi pada kompetensi persaingan global. Seperti penguasaan terhadap sejumlah bahasa asing dan pengaktualisasian bakat emas terutama di bidang, sains, seni dan ekonomi kreatif.
Jika dua hal kontradiktif di atas, sistem pendidikan dan output yang dihasilkan, berkembang sama pesatnya, pasti ada sesuatu yang salah, kurang atau hilang. Salah satu hal terpenting yang semakin terpinggirkan bahkan nyaris hilang dalam sistem pendidikan kita adalah pelajaran tentang nilai dan moral. Selain pelajaran agama, “ mata pelajaran” lain yang nyaris hilang adalah Pramuka. Sebuah kegiatan yang dua decade lalu bisa ditemui di semua jenjang pendidikan mulai tingkat SD, SMP hingga SMA, bahkan menjadi salah satu kegiatan ekstrakurikuler favorit pelajar kita. Menjadi anggota Pramuka adalah sebuah kebanggan bagi pelajar Indonesia ketika itu.
Pramuka, Riwayatmu Kini
Pramuka hampir tak terdengar kabarnya terutama dalam satu decade terakhir. Ia seolah hilang ditelan kemajuan jaman. Bahkan seragam kebesaran berwarna coklat muda dan tua itu semakin jarang terlihat. Apalagi semangatnya. Anak sekolah jaman sekarang bahkan mungkin tidak tahu dan mengenal apa itu Pramuka.
Pemuda kita terutama para pelajar sekolah, kini lebih akrab dengan teknologi. Tanpa pondasi nilai dan moral yang kuat, teknologi dan hiruk pikuk globalisasi akan membentuk karakter pemuda yang hedonis, pragmatis dan anti social. Mereka tumbuh menjadi generasi yang individualis dan berpikir instan. Kepekaan social kepada sesama dan alam semakin memudar. Banyak fakta dan data yang bertebaran di sekitar kita. Kriminalitas dan kenakalan remaja meningkat tajam. Mulai dari tawuran, pemakaian narkoba, minuman keras, seks bebas bahkan kriminalitas. Jika keadaan ini tidak membaik bahkan bertambah buruk, maka ancaman krisis kepemimpinan pemuda semakin nyata di depan mata.
Sebagai ujung tombak penentu masa depan bangsa, kualitas pemuda di masa sekarang akan mempengaruhi kualitas kepemimpinan mereka di masa mendatang ketika tampuk ke kepemimpinan telah berpindah ke pundak mereka. Untuk menyongosng masa depan bangsa yang gemilang, kita tak hanya butuh pemuda yang berkompetensi tinggi namun juga beriman, bermoral, dan berhati nurani. Semua nilai ini terangkum dalam Pramuka. Sebuah kegiatan yang nyaris hilang dan terlupakan.
Menghidupkan Kembali Pramuka
Pramuka bukan sejarah, tapi ia adalah penentu masa depan. Menghidupkan kembali Pramuka terutama di lingkungan sekolah merupakan salah satu upaya penting untuk menyemai bibit-bibit kepemimpinan dalam diri pemuda sedini dan sebaik mungkin. Mengapa Pramuka penting? Karena kegiatan yang luar biasa ini bisa memberi pengaruh signifikan terhadap pembentukan kepribadian seseorang terutama pemuda. Karakter positif dan pekemimpinan pemuda dapat dibentuk melalui organisasi pramuka. Ketakwaan, cinta alam dan kasih sayang, patriot dan ksatria, patuh dan suka bermusyawarah, rela menolong dan tabah, rajin, terampil dan gembira, dan semacamnya adalah nilai-nilai yang senantiasa diajarkan di dalam kegiatan kepramukaan.
Menghidupkan kembali Pramuka dapat dimulai dengan memasukkannya sebagai pilihan dalam kegiatan ekstrakurikuler. Jika perlu, dibuat kurikulum khusus untuk Pramuka. Tentu saja kehadirannya harus dikemas sekreatif mungkin agar memiliki daya tarik di mata siswa. Jangan sampai keikutsertaan siswa hanya karena terpaksa. Kita tidak hanya mengedepankan kuantitas namun juga kualitas. Untuk itu, Pramuka harus hadir mengikuti konteks jaman tanpa kehilangan jati dirinya.
Agar tidak terkesan kuno dan membosankan, kegiatan Pramuka harus fun. Cara dan media yang digunakan bisa melalui permainan dan rekreasi. Dua kegiatan yang sangat disukai oleh anak-anak dan remaja. Seiring dengan perkembangan jaman, kegiatan Pramuka juga harus berbasis teknologi informasi dengan tetap mengedepankan aspek social dan kepedulian terhadap lingkungan. Kehadiran teknologi informasi seharusnya juga bisa menjadi sarana untuk menjalin keakraban dan jaringan serta sarana bertukar informasi antar anggota Pramuka di seluruh penjuru dunia. Pramuka harus mengemas dan mempersiapkan dirinya untuk berdimensi global. Dari sinilah pemimpin masa depan berkualitas dan berdaya saing tinggi tengah kita persiapkan. Apalagi Indonesia memiliki jumlah anggota pramuka paling banyak di dunia. World Organization of the Scout Movement (WOSM) telah menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara yang memegang peranan penting dalam organisasi kepanduan dunia. Banyaknya anggota pramuka di Indonesia dan peranan pentingnya di tingkat internasional merupakan sebuah potensi besar untuk menyemai sebanyak mungkin benih-benih pemimpin masa depan.

ditulis oleh: Ririn Handayani

Peran Gerakan Pramuka dalam Pemilu


Makna Penting Pemilu Legislatif 2009 dan Peran Gerakan Pramuka dalam Pemilihan Umum
Pemilihan Umum (pemilu) legislatif 2009 yang akan dilaksanakan pada hari Kamis, 9 April 2009 mendatang merupakan pemilu yang ke 10 di Indonesia. Pemilu pertama dilakukan pada tahun 1955 dilakukan dua kali. Pertama, 29 September 1955 untuk memilih 257 anggota DPR. Yang kedua, 15 Desember 1955 untuk memilih 520 anggota Dewan Konstituante. Pemilu 1955 diikuti oleh lebih 30-an partai politik (parpol) dan lebih dari seratus daftar kumpulan dan calon perorangan.
Lalu pemilu 1971 yang berlangsung 5 Juli 1971 diikuti 10 partai peserta pemilu. Kemudian, sejak pemilu 1977 (2 Mei 1977), pemilu 1982 (2 Mei 1982), pemilu 1987 (4 Mei 1982), pemilu 1987 (23 April 1987), pemilu 1992 (9 Juni 1992) hingga pemilu 1997 (29 Mei 1997), pesertanya hanya 3 yakni Golkar, PPP dan PDI.
Pelaksanaan Pemilu tahun 1999 (7 Juni 1999) yang merupakan pemilu ke 8 diikuti 48 parpol. Lalu pemilu 2004 (5 April 2004) diikuti 24 parpol dan calon perseorangan. Sama seperti pemilu 2004, pemilu 2009 diikuti 44 parpol, termasuk 6 partai lokal di Nanggroe Aceh Darussalam, dan calon perseorangan Pemilihan Umum (pemilu) legislatif 2009, akan memilih Anggota DPR, DPD, DPRD Provinsi, dan DPRD Kabupaten/Kota
Tata Cara Pemberian Suara Pada Surat Suara
1.         Hanya menggunakan alat yang telah disediakan, berupa ballpoint, di masing-masing bilik suara.
2.         Pemberian suara dalam  bentuk tanda √ (centang).
3.         Pemberian tanda √ (centang) :
a.      Pada surat suara DPR/DPRD Provinsi/DPRD Kabupaten/Kota: HANYA SATU KALI pada kolom gambar/ nama partai politik atau pada kolom nama calon atau pada kolom nomor urut calon anggota legislatif.
b.      Pada surat suara DPD: HANYA SATU KALI pada kolom foto salah satu calon anggota DPD;
4.         Tidak diperbolehkan membubuhkan tulisan dan catatan lain  pada surat suara, karena akan dinyatakan tidak sah.
Penjelasan lainnya :
a. Pada saat melakukan perhitungan suara ditemukan pemberian tanda lebih dari satu kali pada kolom nama partai dan/ atau kolom nomor calon dan/ atau kolom nama calon anggota DPR, DPRD Propinsi dan DPRD Kabupaten / Kota yang sama dan dalam partai politik yang sama, suara tersebut dinyatakan sah dan dihitung satu suara.
b. Pada saat melakukan perhitungan suara ditemukan pemberian tanda satu kali atau lebih pada nomor urut dan/ atau kolom foto dan/ atau nama calon anggota DPD yang sama, suara tersebut dinyatakan sah dan dihitung satu suara.
( Perppu Nomor : 1 tahun 2009 )
Makna Penting Pemilu
Sebagai kegiatan kenegaraan yang rutin ( 5 tahun sekali ), pelaksanaan pemilu memiliki minimal 2 makna penting. Pertama, pemilu legislatif yang merupakan pemilu memilih anggota DPR, DPD dan DPRD Provinsi, DPRD Kabupaten/kota tidak hanya berhenti hingga anggota  DPR, DPD dan DPRD Provinsi, DPRD Kabupaten/kota terpilih dilantik. Melainkan, hasil penyelenggara lembaga Negara yang dipilih secara langsung oleh rakyat akan mewarnai kebijakan dan dinamika kehidupan pemerintahan, berbangsa dan bernegara baik di tingkat nasional dan daerah.
Selanjutnya DPR sebagai hasil pemilihan rakyat langsung akan ikut menentukan pencalonan dan pemilihan personil penyelenggara lembaga Negara lainnya, baik  yang ditetapkan dalam UUD maupun yang ditetapkan berdasarkan UU. Seperti anggota Komisi Yudisial, Hakim Agung, Hakim Mahkamah Konstitusi, anggota Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), Bank Sentral, KPU, Komisi Nasional Hak Azasi Manusia, Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) hingga Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU).
Dalam konteks lokal, hasil pemilu anggota DPRD Provinsi dan DPRD Kabupaten/Kota akan menentukan kebijakan pemerintahan dan pembangunan di daerah serta pelaksanaan pemilu Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah.
Kedua, pelaksanaan pemilu merupakan saat masyarakat khususnya yang menggunakan hak pilihnya, untuk melakukan penilaian/evaluasi dan memilih individu yang akan menduduki jabatan di DPR/DPD/DPRD.
Peran Gerakan Pramuka dalam Pemilihan Umum.
Gerakan Pramuka sebagai wadah pendidikan non formal sudah semestinya dapat memberikan pencerahan dan pemahaman tentang seputar Pemilu kepada seluruh anggota Gerakan Pramuka khususnya peserta didik., baik yang sudah memiliki hak suara maupun yang belum memiliki hak suara.
Bagi anggota Gerakan Pramuka memahami dengan benar seluk beluk tentang Pemilu akan menjadikan bagian dalam proses percerdasan bangsa. Memahami kedudukan dan tugas-tugas penyelenggara pemilu dengan peraturan yang ada merupakan pengetahuan bagi anggota Gerakan Pramuka dalam upaya ikut serta membantu pemerintah khususnya dalam hal sosialisasi pemilu, selain itu  Gerakan Pramuka dengan Kode Kehormatan Pramuka, menempatkan dirinya sesuai dengan Jiwa Tri Satya dan Dasadarma membantu menjaga proses demokrasi berjalan dengan aman, tertib dan lancar.
Sehubungan Gerakan Pramuka adalah bersifat non politik, maka tidaklah layak membawa lembaga ini kedalam kancah politik maupun yang bersifat politik praktis. Meskipun setiap anggota Gerakan pramuka memiliki hak suara namun pada prakteknya Gerakan Pramuka dituntut tetap netral. Tidak memposisikan Kwartir/ Gugusdepan/ satuankarya dalam dukung-mendukung atau memihak pada salah satu peserta pemilu.
Selanjutnya peran apa sajakah anggota Gerakan Pramuka, secara pribadi maupun kelembagaan dalam ikut serta mensukseskan Pemilu, antara lain sebagai berikut :
1. Mendatangi dan memberikan hak suaranya pada TPS (Tempat Pemungutan Suara) bagi yang telah memiliki hak suara.
2. Bagi yang belum memiliki hak suara, ikut serta dalam menjaga keamanan lingkungan maupun di rumah sendiri.
3. Secara suka dan rela membantu pembuatan TPS di lingkungan tempat tinggalnya.
4. Mengingatkan anggota keluarga untuk mendatangi TPS pada hari Pemungutan Suara.
5. Tidak mengikuti acara kampanye dengan menggunakan seragam Pramuka, atribut pramuka atau mengatasnamakan sebagai anggota Gerakan Pramuka/ membawa nama lembaga Gerakan Pramuka.
6. Tetap menjaga netralitas Gerakan Pramuka.
Kita berharap proses pesta demokrasi di negeri kita ini,  berjalan dengan tertib, lancar dan aman. Semoga.
Penulis : Gunawan Surendro ( Pembina Pramuka dan Panitia Pemilu – Pemilukada / PPK  sejak th. 2004 )

Pramuka di Kampus: Masih Eksiskah?


Pramuka di kampus? Praja Muda Karana itu memangnya masih ada? Begitu tanggapan sebagian dari kita jika bicara tentang Pramuka di kampus. Tak heran banyak yang bertanya-tanya, karena memang banyak kampus di Indonesia tak ada aktivitas Pramuka.
Mengapa tak banyak kampus memiliki aktivitas Pramuka? Alasannya bisa beragam. Peminatnya kurang, ada anggapan Pramuka itu kuno, ketinggalan zaman alias zadul juga berkembang. Bahkan, mereka yang menjadi anggota Pramuka Pandega di kampus pun tak sedikit menerima ”ledekan” semacam itu.
Kenyataan seperti ini tentunya memprihatinkan, apalagi mahasiswa adalah cikal bakal pemimpin bangsa, tapi tak tahu benar apa sisi positif dari kegiatan gerakan Pramuka. Mereka menjauhi, tak memilihnya sebagai pilihan kegiatan di kampus, maka di banyak kampus Pramuka pun tak eksis.
Namun, dari sekian banyak kampus yang tak memiliki Gerakan Pramuka, masih ada kampus-kampus yang terus menjalankan aktivitas Pramuka. Memang tak banyak mahasiswa di kampus tersebut menjadi anggota Pramuka, tapi dari yang sedikit bergabung menjadi anggota itulah diharapkan gerakan Pramuka terus bergulir.
Membanggakan
Labibul, mahasiswa Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Negeri Jakarta (UNJ) angkatan 2006, sudah bergabung menjadi anggota Pramuka sejak masih duduk di bangku Madrasah Ibtidaiyah (setara SD). Kegiatan Pramuka berlanjut hingga ia masuk SMP di Bumi Ayu Brebes, Jawa Tengah, dan STM Widya Karya Purwokerto, Jawa Tengah.
”Saat saya masuk UNJ, otomatis saya melanjutkan kegiatan Pramuka ini. Bisa dibayangkan waktu saya pertama kali masuk kampus dengan memakai seragam Pramuka, sementara teman-teman saya di Fakultas Teknik kebanyakan lulusan STM, waaah, habis saya diledekin. Dibilang: zadul, kuno,” tutur Labibul.
Namun, ledekan-ledekan yang mengepung Labibul tak dihiraukannya. Dia tetap fokus dengan aktivitas Pramuka yang sudah dicintainya sejak masih kanak-kanak.
”Ada banyak keterampilan yang saya kuasai karena keikutsertaan saya di Pramuka. Kalau saya belajar keterampilan itu di luar Pramuka, wah saya pasti harus mengeluarkan dana besar. Jadi saya melihat keuntungan ikut Pramuka karena diri saya berkembang di dalam Pramuka,” kata Labibul.
Hal yang sama pun dialami Arif Fahrurozi yang kini menjadi anggota Dewan Kerja Daerah (DKD) Pramuka Penegak Pandega Kwartir Daerah Jambi. Fahrurozi yang baru saja menyelesaikan kuliahnya di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Jambi ini juga sempat diledek teman-teman kampusnya ketika bergabung dengan Gerakan Pramuka di Universitas Jambi.
”Saat awal saya pakai seragam Pramuka, teman-teman yang ikut unit kegiatan lain di kampus meledek habis saya. Tapi tak saya pedulikan. Sekarang setelah saya menjadi anggota DKD, mereka baru sadar bahwa Pramuka itu enggak cuma tepuk-tepuk tangan saja,” kata Fahrurozi bangga.
Anggota Pramuka dari Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Nuramelia, lebih beruntung. Mahasiswi Jurusan Pendidikan Biologi angkatan 2009 Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Kejuruan ini tak pernah merasakan ledekan teman-teman kampusnya.
”Teman-teman di UIN sangat menghargai pilihan kegiatan teman-teman lain,” kata Amel, panggilan Nuramelia.
Membuktikan diri
Meskipun diledek teman, mereka tetap jalan terus dan terpacu untuk membuktikan kepada teman-teman di kampus bahwa melalui Pramuka mereka bisa mengembangkan diri.
Aktivitas Racana (Pramuka setingkat Perguruan Tinggi) UNJ digelar tiap hari Sabtu sore. Ada baris berbaris, ada pula pemberian berbagai macam materi. Materi yang diberikan kepada anggota Pramuka setiap minggu berbeda. Ada fotografi, panjat tebing, hasta karya , keterampilan bahan daur ulang, belajar teknologi dengan membongkar pasang komputer atau televisi, dan belajar multimedia dengan membuat website.
”Saya mendapatkan banyak hal positif bergabung dengan Pramuka. Saya menjadi lebih percaya diri dan mendapat keterampilan. Contohnya saya bisa mendapatkan training gratis 4 bulan di Cibubur Aeromodeling Club. Kalau saya harus bayar sendiri, wah berapa itu?” kata Labibul.
Labibul pun berulang kali menjadi panitia di berbagai acara Pramuka. Seperti menjadi panitia Pertemuan Pramuka Luar Biasa tingkat Nasional dan panitia Jambore Asean 2008 di Cibubur, Jakarta Timur. Semua pengalaman tersebut semakin memperkaya dirinya.
Arif Fahrurozi membuktikan sebaliknya bahwa Gerakan Pramuka itu bukan gerakan zadul atau ketinggalan zaman. Justru Gerakan Pramuka yang ia ikuti terus membawanya maju mengembangkan diri.
”Anggota Pramuka di Universitas Jambi ini memang ada ratusan orang, tapi yang aktif hanya 40 orang. Ya barangkali karena kesibukan teman-teman. Kalau kegiatan rutin kami ya hari Sabtu saja,” kata Fahrurozi.
Yang membanggakan Fahrurozi, dengan bergabung menjadi anggota Pramuka, ia sering mengikuti event di tingkat nasional. ”Setiap tahun selalu ada event nasional, kalau unit kegiatan lain belum tentu ada acara tingkat nasional setiap tahun. Ketua DKD Pramuka Kwartir Daerah Jambi bahkan dikirim ke Amerika Serikat selama dua bulan untuk melatih Pramuka di sana,” kata Fahrurozi.
Selain menjadi lebih percaya diri, Pramuka membuat Fahrurozi menjadi mandiri, bisa menghadapi/melihat masalah tidak hanya dari satu sisi.
Hal yang sama juga dirasakan Amel. Ia pun bangga menjadi anggota Pramuka. Racana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta aktif mengikuti Pendidikan Latihan Dasar di Semarang, Perkemahan Wira Karya Nasional di Pidie, Nanggroe Aceh Darussalam, juga latihan berkomunikasi dengan Pramuka dari negara lain melalui radio amatir/internet adalah hal lain yang membuat Amel merasa bangga.
Artinya, kegiatan Pramuka terus berkembang sesuai dengan kemajuan zaman. Seragam Pramuka memang tak berubah, tapi isi kepala anggota Pramuka ternyata tak sezadul yang dikira. Jadi, tak ada salahnya menghidupkan aktivitas Pramuka di kampus kita.
Penulis : KELOK DYAH MESWATI

Pramuka yang Jalan di Tempat


Pramuka, bagi kalangan muda masa kini, terlihat jadul. Padahal, tujuan organisasi kepanduan ini teramat mulia.  Yaitu membina kawula muda. Lalu mengapa Pramuka kini seakan jalan di tempat? Haruskah ini kita biarkan terus berlangsung?
Bila kita bertanya tentang Pramuka pada anak sekarang. Kita akan menemukan beragam ekspresi. Ada yang tampak kebingungan, seakan tak pernah kenal pada Pramuka. Bahkan tak sedikit yang menunjukkan wajah penolakan untuk membicarakan masalah kepramukaan.
Organisasi kepanduan ini seolah hilang ditelan bumi. Tak tampak lagi aktivitas yang menonjol dari Pramuka. Peringatan Hari Pramuka pun seakan dirayakan sekenanya. Yang lebih memprihatinkan Pramuka seakan kehilangan peminatnya. Kini jumlah kaum muda yang mau terlibat dalam Pramuka, semakin menurun.
Kompleksitas Persoalan
Pramuka, di masa Orde Baru mendapatkan perhatian yang cukup besar dari pemerintah dan masyarakat. Pada masa itu, Pramuka cukup diminati kaum muda. Apalagi di masa Orde Baru secara berkala, Pramuka melakukan berbagai aktivitas, misalnya Jambore. Keikutsertaan media massa dalam setiap kegiatan kepramukaan semakin menaikkan pamor Pramuka. Sehingga keberadaannya pada saat itu cukup menonjol.
Perbedaan amat terasa bila dibandingkan dengan keberadaan Pramuka di masa  kini. Gumilar R Somantri (2010, dalam Setiawan), seorang dosen Universitas Indonesia mengatakan bahwa, “Pramuka sekarang berubah, kehilangan pamornya. Kini Pramuka hanya dimaknai secara prosedural, sebatas seragam coklat.”
Memajukan Pramuka
Pada dasarnya Pramuka memiliki tujuan yang mulia yaitu membina anak dan pemuda Indonesia untuk menjadi orang yang tangguh dalam segala keadaan. Dengan ilmu dan keterampilan yang diperolehnya, anggota Pramuka diharapkan dapat menjadi seorang yang bermanfaat bagi masyarakat, serta memiliki rasa cinta akan tanah airnya.
Sebuah organisasi seperti Pramuka, sampai kapan pun masih dibutuhkan oleh bangsa ini. Apalagi dalam situasi bangsa yang tak menentu seperti saat ini. Keadaan sosial ekonomi masyarakat yang bermasalah, amat memerlukan sebuah organisasi yang mampu membina kaum muda, serta menolong masyarakat dengan tindakan nyata. Namun yang jadi pertanyaannya kini, bagaimana membangunkan Pramuka dari mati surinya? Ini memang bukan pekerjaan mudah.  Apalagi kalau sudah menyangkut kepentingan orang banyak. Bukan perkara gampang mengubah kerangka berpikir masyarakat kita yang mulai terkontaminasi budaya individualistis. Diperlukan kerja keras dan kerja sama semua pihak, untuk mengembalikan Pramuka di hati masyarakat kita.
Pemerintah harus lebih serius menangani persoalan Pramuka ini. Keterlibatan para ahli pendidikan anak dan remaja dalam upaya pembenahan organisasi ini, patut dipertimbangkan. Ini dimaksudkan agar mereka dapat menemukan formulasi dan program yang tepat untuk diterapkan dalam Pramuka. Tentunya disesuaikan dengan situasi dan karakter anak dan remaja ini.
Media massa dan pihak sekolah perlu dilibatkan dalam sosialisasi mengenai Pramuka dan manfaatnya baik bagi pesertanya maupun bagi masyarakat. Bukan tak mungkin, keengganan anak dan remaja dalam kegiatan Pramuka karena kurangnya pemahaman tentang Pramuka itu sendiri. Bukankah ada pepatah yang berkata, “Tak kenal, maka tak sayang.”
Para pembina dan orang-orang yang telah terlibat dalam Pramuka, hendaknya tak menyerah untuk memajukan organisasi ini. Nilai-nilai luhur yang selama ini dijadikan pedoman Pramuka harus tetap dipegang teguh, serta diterapkan dalam kehidupan masyarakat. Dengan demikian, masyarakat dapat melihat contoh nyata hasil penggemblengan dari Pramuka.
Terimalah, “Salam Pramuka…!” Selamat memperingati Hari Pramuka untuk kita semua. Semoga semangat kebersamaan dari Pramuka dapat membuat perubahan atas bangsa ini.
Susana Febryanty, Penulis Lepas, Anggota Komunitas Manna Doa dan Kontributor Buletin GroW GKI Gejayan.

Revitalisasi Pramuka Tidak Gampang


YOGYA (MERAPI) – Menanamkan nilai-nilai Praja Muda Karana (Pramuka) kepada generasi muda saat ini bukan pekerjaan gampang. Bagi mereka, Pramuka masih dicap sebagai perkumpulan orang-orang yang suka tepuk tangan dan kurang kerjaan. Anggapan itu sulit ditepis. Mengingat laju modernisasi budaya dan teknologi yang melesat hebat membuat generasi muda ogah-ogahan mengikuti organisasi sukarela tersebut. Alhasil, hanya ‘orang-orang tua’ yang concern atau perhatian menjalankan misi Pramuka.
“Memang sulit mengembalikan semangat Pramuka seperti dulu. Banyak orang melihat peran Pramuka tidak ada, karena mereka hanya melihat dari seragam bukan dari pribadi orangnya,” kata Kepala Lembaga Kader Pendidikan Pramuka Cabang Kota Yogyakarta Ki Sutikno kepada wartawan di Balaikota, Selasa (14/8).
Padahal, lanjut dia, Pramuka mengajarkan dasar-dasar kehidupan manusia. Pramuka juga mengajarkan cara bertahan hidup di kala susah, hingga berjuang ketika bangsa ini membutuhkan. Karena sejak dulu, Pramuka selalu mendidik kadernya untuk hidup dan mengenal alam terbuka. Wajar, jika Pramuka mirip outbond, karena Pramuka lahir lebih dulu ketimbang kegitan alam bebas itu.
“Hari gini ribet ngapalin morse atau semapor kan sudah ada handphone. Coba bayangkan Anda hidup di tengah hutan yang tidak ada sinyal. Kita juga bisa belajar dari bencana gempa setahun silam,” katanya.
Saat ini, jumlah kader Pramuka di Kota Yogya 20.000 orang. Penyumbang terbanyak adalah siswa SD dan SMP. Tidak seperti dulu, ekstrakurikuler Pramuka di SMP tidak lagi dienyam hingga kelas 3 karena alasan para siswa harus mengejar prestasi.
Di Hari Jadi ke-46 Pramuka, revitalisasi Pramuka mutlak dilakukan. ‘Aku Bangga Jadi Pramuka’ adalah tema berikutnya yang harus dipikirkan. Sebab, perjuangan meneruskan nilai-nilai kehidupan yang diajarkan Bapak Pandu Sedunia Lord Robert Baden-Powell masih panjang. “Pramuka adalah perkumpulan sukarela, bukan organisasi wajib. Pramuka itu seleksi alam,” kata Ki Sutikno

KUPAS TENTANG SKK DAN TKK


Sistem Tanda Kecakapan Pramuka merupakan salah satu penerapan sistem dari metode pendidikan kepramukaan yang bertujuan untuk  memberikan pendidikan watak kepada peserta didik melalui kegiatan kepramukaan yang menarik, menyenangkan dan menantang yang disesuaikan dengan kondisi, situasi, dan kegiatan peserta didik. Metode pendidikan kepramukaan ini menjadi metode ciri khas pendidikan dalam Gerakan Pramuka
Gerakan Pramuka menggunakan Sistem Tanda Kecakapan Pramuka yang meliputi :
1) Syarat Kecakapan Umum
2) Syarat Kecakapan Khusus
3) Syarat Pramuka Garuda

SKU, SKK, dan SPG merupakan alat/materi kegiatan pokok dalam proses pendidikan kepramukaan, yang dilaksanakan oleh peserta didik dalam upaya untuk meningkatkan mutu pengetahuan, keterampilan dan adanya perubahan sikap laku peserta didik yang lebih baik.
Selanjutnya dalam rubrik ini akan membahas tentang  SKK ( Syarat Kecakapan Khusus dan TKK ( Tanda Kecakapan Khusus ). Syarat Kecapakap Khusus ( SKK ) adalah syarat yang wajib dipenuhi oleh seorang pramuka untuk memperoleh Tanda Kecakapan Khusus ( TKK ). Sedangkan Tanda Kecakapan Khusus ( TKK ) adalah suatu tanda yang menunjukan ,kecakapan,  kepandaian, kemahiran, ketangkasan, dan ketrampilan seorang anggota Pramuka dibidang tertentu.
Perlu dipahami bahwa di dalam Gerakan Pramuka :
1. Penyelenggaraan SKK maupun Tanda gambar untuk TKK diatur berdasarkan  Surat Keputusan yang dikeluarkan Kwartir Nasional  yakni :
a.  SK Kwarnas  Nomor 132 Tahun 1979
b. SK Kwarnas  Nomor 016 Tahun 1980
c. SK Kwarnas  Nomor 030 Tahun 1981
d. SK Kwarnas  pada Seluruh Satuan Karya ( Saka )
2. SKK  terbagi menjadi  5  Bidang  dengan  5  warna dasar:
a. Bidang Agama, Mental, Moral, Spiritual, Pembentukan Pribadi dan Watak
b. Bidang Patriotisme dan Seni Budaya.
c. Bidang Ketangkasan dan Kesehatan.
d. Bidang Ketrampilan dan Teknik Pembangunan.
e. Bidang Sosial, Perikemanusiaan, Gotong-royong, Ketertiban Masyarakat, Perdamaian Dunia dan Lingkungan Hidup.
Berikut 5 bidang dengan warna dasar dan gambar Tanda Kecakapan Khusus:
3. SKK terbagi menjadi 3 tingkatan :
a.  Golongan Siaga : satu Tingkat.
b.  Golongan Penggalang : Madya, Purwa dan Utama.
c. Golongan Penegak/ Pandega: Madya, Purwa dan Utama.
Untuk penggalang, penegak dan pandega diharuskan menyelesaikan dahulu pada kecakapan SKK yang terendah yakni tingkat Madya sebelum ke tingkat berikutnya. SKK Madya, Purwa dan Utama memiliki instrument persyaratan yang berbeda dan semakin berbobot sesuai tingkatannya.
4. Bentuk Bingkai dan ukuran Tanda Kecakapan khusus ( TKK ) sesuai dengan tingkatan dan golongan adalah sebagai berikut :
5. Penggunaan dan pemasangan Tanda Kecakapan Khusus ( TKK ).
a. Peserta didik yang telah berhasil menyelesaikan SKK mendapatkan tanda
kecakapan ( TKK ).
b.  Apabila peserta didik telah menyelesaikan SKK tingkat purwa maka TKK
tingkat madya yang disematkan terdahulu (Bentuk bingkai Lingkaran ) diganti dengan TKK tingkat purwa ( bentuk bingkai persegi empat  ), demikian pula apabila telah mencapai SKK tingkat Utama, TKK tingkat purwa akan digantikan dengan TKK yang tingkat Utama. Kesemuanya masih dalam satu macam SKK ( Syarat Kecakapan Umum ). Dengan demikian TKK yang dipergunakan adalah TKK yang memiliki tingkat tertinggi.
Contoh misal seorang Pramuka Penggalang telah menyelesaikan SKK berkemah dimulai dari awal tingkat Purwa – Madya dan ke Utama maka perubahan bentuk bingkai TKK seperti dibawah ini :
6. Pemasangan tanda gambar atau TKK :
TKK dipasang pada lengan kanan pakaian seragam pramuka, dengan cara penempatan gambar TKK, yaitu :
a. Melintang, dua jari dibawah lambang Kwartir Daerah/diatas jahitan bawah lengan, atau
b. Melingkari lambang Kwartir Daerah pada posisi kanan, kiri atau bawah lambang daerah dan diatur sedemikian rupa/ simetris agar nampak rapi. Jumlah maksimal yang dipasang pada lengan baju adalah 5 macam TKK.
Berikut pemasangan pada lengan kanan pada pakaian seragam pramuka.
c. Peserta didik yang telah memiliki lebih dari 5 macam TKK maka selebihnya dapat menggunakan/ dipasang pada Tetampan/ selempang.
d. Penggunaan Tetampan/ Selempang.
Tetampan/ selempang merupakan alat kelengkapan seragam pramuka yang dipergunakan untuk memasang TKK. Tetampan/ Selempang terbuat dari kain yang berwarna dasar coklat tua, memiliki lebar 10 cm dan panjang menyesuaikan pengguna.( tinggi badan ) serta pada kedua pinggir kain diberi pita zig-zag dengan warna :
Siaga : Berwarna hijau.
Pengalang : Berwarna merah
Penegak/ Pandega : Berwarna Kuning.
Berikut contoh Tetampan/ selempang untuk masing-masing golongan :
 





e. Tetampan/ selempang dapat dipakai pada acara khusus/ tertentu misal pada Upacara besar, Upacara pelantikan dll., sedangkan pada kegiatan yang bersifat rutin tidak perlu dikenakan.
7. Untuk tata cara menguji kecakapan peserta didik dalam menyelesaikan SKK telah diatur tersendiri dengan Surat Keputusan Kwartir Nasional : Nomor : 273 Tahun 1993 Tentang Petunjuk Pelaksanaan Cara Menilai Kecakapan Pramuka.
Penulisan : oleh Kak Gunawan Surendro ( Pramukanet.org )

Detik Kelahiran Pramuka


DETIK DETIK KELAHIRAN GERAKAN PRAMUKA
pintu-gerbang-g-pramuka_resize.gif
Latar Belakang Lahirnya Gerakan Pramuka
Gerakan Pramuka lahir pada tahun 1961, jadi kalau akan menyimak latar belakang lahirnya Gerakan Pramuka, orang perlu mengkaji keadaan, kejadian dan peristiwa pada sekitar tahun 1960.
Dari ungkapan yang telah dipaparkan di depan kita lihat bahwa jumlah perkumpulan kepramukaan di Indonesia waktu itu sangat banyak. Jumlah itu tidak sepandan dengan jumlah seluruh anggota perkumpulan itu.
Peraturan yang timbul pada masa perintisan ini adalah Ketetapan MPRS Nomor II/MPRS/1960, tanggal 3 Desember 1960 tentang rencana pembangunan Nasional Semesta Berencana. Dalam ketetapan ini dapat ditemukan Pasal 330. C. yang menyatakan bahwa dasar pendidikan di bidang kepanduan adalah Pancasila. Seterusnya penertiban tentang kepanduan (Pasal 741) dan pendidikan kepanduan supaya diintensifkan dan menyetujui rencana Pemerintah untuk mendirikan Pramuka (Pasal 349 Ayat 30). Kemudian kepanduan supaya dibebaskan dari sisa-sisa Lord Baden Powellisme (Lampiran C Ayat 8).
Ketetapan itu memberi kewajiban agar Pemerintah melaksanakannya. Karena itulah Pesiden/Mandataris MPRS pada 9 Maret 1961 mengumpulkan tokoh-tokoh dan pemimpin gerakan kepramukaan Indonesia, bertempat di Istana Negara. Hari Kamis malam itulah Presiden mengungkapkan bahwa kepanduan yang ada harus diperbaharui, metode dan aktivitas pendidikan harus diganti, seluruh organisasi kepanduan yang ada dilebur menjadi satu yang disebut Pramuka. Presiden juga menunjuk panitia yang terdiri atas Sri Sultan Hamengku Buwono IX, Menteri P dan K Prof. Prijono, Menteri Pertanian Dr.A. Azis Saleh dan Menteri Transmigrasi, Koperasi dan Pembangunan Masyarakat Desa, Achmadi. Panitia ini tentulah perlu sesuatu pengesahan. Dan kemudian terbitlah Keputusan Presiden RI No.112 Tahun 1961 tanggal 5 April 1961, tentang Panitia Pembantu Pelaksana Pembentukan Gerakan Pramuka dengan susunan keanggotaan seperti yang disebut oleh Presiden pada tanggal 9 Maret 1961. Ada perbedaan sebutan atau tugas panitia antara pidato Presiden dengan Keputusan Presiden itu. Masih dalam bulan April itu juga, keluarlah Keputusan Presiden RI Nomor 121 Tahun 1961 tanggal 11 April 1961 tentang Panitia Pembentukan Gerakan Pramuka. Anggota Panitia ini terdiri atas Sri Sultan Hamengku Buwono IX, Prof. Prijono, Dr. A. Azis Saleh, Achmadi dan Muljadi Djojo Martono (Menteri Sosial). Panitia inilah yang kemudian mengolah Anggaran Dasar Gerakan Pramuka, sebagai Lampiran Keputusan Presiden R.I Nomor 238 Tahun 1961, tanggal 20 Mei 1961 tentang Gerakan Pramuka.
Kelahiran Gerakan Pramuka
Gerakan Pramuka ditandai dengan serangkaian peristiwa yang saling berkaitan yaitu 1. Pidato Presiden/Mandataris MPRS dihadapan para tokoh dan pimpinan yang mewakili organisasi kepanduan yang terdapat di Indonesia pada tanggal 9 Maret 1961 di Istana Negara. Peristiwa ini kemudian disebut sebagai HARI TUNAS GERAKAN PRAMUKA
· Diterbitkannya Keputusan Presiden Nomor 238 Tahun 1961, tanggal 20 Mei 1961, tentang Gerakan Pramuka yang menetapkan Gerakan Pramuka sebagai satu-satunya organisasi kepanduan yang ditugaskan menyelenggarakan pendidikan kepanduan bagi anak-anak dan pemuda Indonesia, serta mengesahkan Anggaran Dasar Gerakan Pramuka yang dijadikan pedoman, petunjuk dan pegangan bagi para pengelola Gerakan Pramuka dalam menjalankan tugasnya. Tanggal 20 Mei adalah; Hari Kebangkitan Nasional, namun bagi Gerakan Pramuka memiliki arti khusus dan merupakan tonggak sejarah untuk pendidikan di lingkungan ke tiga. Peristiwa ini kemudian disebut sebagai HARI PERMULAAN TAHUN KERJA.
· Pernyataan para wakil organisasi kepanduan di Indonesia yang dengan ikhlas meleburkan diri ke dalam organisasi Gerakan Pramuka, dilakukan di Istana Olahraga Senayan pada tanggal 30 Juli 1961. Peristiwa ini kemudian disebut sebagai HARI IKRAR GERAKAN PRAMUKA.
2. Pelantikan Mapinas, Kwarnas dan Kwarnari di Istana Negara, diikuti defile Pramuka untuk diperkenalkan kepada masyarakat yang didahului dengan penganugerahan Panji-Panji Gerakan Pramuka, dan kesemuanya ini terjadi pada tanggal pada tanggal 14 Agustus 1961. Peristiwa ini kemudian disebut sebagai HARI PRAMUKA.
Gerakan Pramuka Diperkenalkan
Pidato Presiden pada tanggal 9 Maret 1961 juga menggariskan agar pada peringatan\ Proklamasi Kemerdekaan RI Gerakan Pramuka telah ada dan dikenal oleh masyarakat. Oleh karena itu Keppres RI No.238 Tahun 1961 perlu ada pendukungnya yaitu pengurus dan anggotanya. Menurut Anggaran Dasar Gerakan Pramuka, pimpinan perkumpulan ini dipegang oleh Majelis Pimpinan Nasional (MAPINAS) yang di dalamnya terdapat Kwartir Nasional Gerakan Pramuka dan Kwartir Nasional Harian. Badan Pimpinan Pusat ini secara simbolis disusun dengan mengambil angka keramat 17-8-’45, yaitu terdiri atas Mapinas beranggotakan 45 orang di antaranya duduk dalam Kwarnas 17 orang dan dalam Kwarnasri 8 orang. Namun demikian dalam realisasinya seperti tersebut dalam Keppres RI No.447 Tahun 1961, tanggal 14 Agustus 1961 jumlah anggota Mapinas menjadi 70 orang dengan rincian dari 70 anggota itu 17 orang di antaranya sebagai anggota Kwarnas dan 8 orang di antara anggota Kwarnas ini menjadi anggota Kwarnari.
Mapinas diketuai oleh Dr. Ir. Soekarno, Presiden RI dengan Wakil Ketua I, Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan Wakil Ketua II Brigjen TNI Dr.A. Aziz Saleh.
Sementara itu dalam Kwarnas, Sri Sultan Hamengku Buwono IX menjabat Ketua dan Brigjen TNI Dr.A. Aziz Saleh sebagai Wakil Ketua merangkap Ketua Kwarnari.
Gerakan Pramuka secara resmi diperkenalkan kepada seluruh rakyat Indonesia pada tanggal 14 Agustus 1961 bukan saja di Ibukota Jakarta, tapi juga di tempat yang
penting di Indonesia. Di Jakarta sekitar 10.000 anggota Gerakan Pramuka mengadakan Apel Besar yang diikuti dengan pawai pembangunan dan defile di depan
Presiden dan berkeliling Jakarta. Sebelum kegiatan pawai/defile, Presiden melantik anggota Mapinas, Kwarnas dan Kwarnari, di Istana negara, dan menyampaikan anugerah tanda penghargaan dan kehormatan berupa Panji Gerakan Kepanduan Nasional Indonesia (Keppres No.448 Tahun 1961) yang diterimakan kepada Ketua Kwartir Nasional, Sri Sultan Hamengku Buwono IX sesaat sebelum pawai/defile dimulai. Peristiwa perkenalan tanggal 14 Agustus 1961 ini kemudian dilakukan sebagai HARI PRAMUKA yang setiap tahun diperingati oleh seluruh jajaran dan anggota Gerakan Pramuka
Diperoleh: “http://id.wikipedia.org/wiki/Sejarah_Gerakan_Pramuka_Indonesia”

Catatan redaksi : Ada Sesuatu yang menarik, mengapa yang menandatangani Kepres Tentang  Gerakan  Pramuka adalah Ir. Juanda ? Bilamana Presiden saat itu tengah mengadakan kunjungan ke Jepang, mengapa tidak menunggu beliau pulang dari lawatannya ?