Pages

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Oct 20, 2011

Seorang Pemimpin Yang Sukses Justru Harus Mau Melayani


Seorang pemimpin belum tentu seorang yang hebat, seorang pemimpin belum tentu juga seorang figur yang baik bagi bawahan atau bagi orang-orang yang dipimpinnya. Banyak atasan atau pemimpin yang gagal pada akhirnya, tapi itu semata-mata bukan karena ketidak-mampuannya dalam memimpin dan mengatur bawahannya. Tapi karena mental dari pemimpinnya itu sendiri yang telah manjadi alasan kenapa dia gagal.

Mental pemimpin yang tidak mau tahu dengan kendala dan kesulitan di medan kerja, mental pemimpin yang hanya ingin tahu tentang hasil kerja bawahannya tanpa mau melihat atau mau ikut campur di dalam proses sebuah pekerjaan yang dipercayakan pada bawahannya. Mental-mental seperti inilah yang sering kali membawa sang pemimpin dalam kegagalan atau bahkan sebuah kehancuran. Tapi yang lebih parah adalah seorang pemimpin yang selalu menyalahkan kegagalan sebuah pekerjaan sepenuhnya pada anak buahnya, karena hal ini akan menjadi bumerang untuk sang pemimpin.

Jadi apa sebenarnya yang diperlukan untuk dapat menjadi seorang pemimpin yang baik dan benar, tidak hanya di mata bawahannya tapi juga di mata rekan kerja. Hanya satu cara, yaitu mau "MELAYANI". Tidak ada cara lain lagi, melayani yang saya maksudkan adalah bukan melayani seperti seorang pembantu pada majikannya. Akan tetapi melayani dengan artian sebagai berikut: mau tahu ketika bawahannya mengalami kesulitan dalam pekerjaan yang dipercayakan padanya, tapi tidak cukup hanya mau tahu saja. Tapi mau juga turun tangan untuk membantu dan memberikan arahan yang benar dalam proses pengerjaannya. Ini baru sebuah langkah kecil dari apa yang harus dilakukan untuk menjadi seorang pemimpin yang baik, disegani, dihormati dan sukses.

Ketika seorang pemimpin mau untuk melayani, yaitu mau untuk mendengar dan mengerti serta mau tahu apa yang menjadi keluhan bawahannya, baik mengenai kepemimpinannnya, ataupun mengenai kemampuannya dalam memecahkan masalah. ini penting karena bagaimanpun juga, seorang pemimpin seperti tulang punggung sebagai sandaran bagi bawahannya. jadi saat pemimpin mampu untuk memecahkan masalah tanpa menimbulkan tekanan pada bawahannya, disinilah dapat dinilai bahwa pemimpin tersebut adalah pemimpin yang sukses.

Memiliki Semangat Seperti Tokoh Film Kartun


Mungkin Anda mengira bahwa membuat suatu yang tidak mungkin menjadi mungkin hanya ada pada film kartun seperti Film Naruto, One Piece, Dragon Ball. Dan mungkin Anda mengira didunia ini tidak ada yang seperti itu.

Sebenarnya kita pun dapat melakukan yang seperti film kartun lakukan, tetapi tidak dalam jurus bayangan seperti Naruto, atau memanjangkan tangan seperti Luffi dari One Piece. Kita hanya dapat meniru semangat mereka untuk mengubah sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin. Kita dapat meniru tekad mereka untuk menjadikan sesuatu yang benar-benar mereka impikan menjadi terwujud.

Dengan meniru tekad dan semangat mereka, apapun yang kita impikan, apapun yang kita inginkan Niscaya akan terwujud. Karena, selama tekad dan semangat masih berkobar dalam diri kita, suatu impian pasti akan dilakukan dengan kesungguhan dan ketekunan hati. Hingga suatu yang tidak mungkin pun dapat disulap dan dirubah menjadi suatu yang sangat mungkin terjadi.

Jadi, milikilah semangat seperti tokoh film kartun, karena didunia ini “Tidak ada sesuatu itu yang tidak mungkin, kecuali bagi mereka yang tidak percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa.”

Mencetak MImpi


Kebanyakan orang kalo ditanya kenapa gagal pasti macem-macem deh alasannya. Mulai dari gada kesempatan, ga bisa, kurang ini, kurang itu, seribu pembelaan langsung deh meluncur dari mulut. Padahal pernah engga sih kita mikir kalo kebanyakan penyebab kita gagal adalah diri kita sendiri, yaitu engga mau dan seringkali pesimis duluan.

Kenapa saya bilang seperti ini ? Karena menurut saya, engga ada satu orangpun di dunia ini yang tidak mampu mencapai mimpinya, asalkan dia mau, berjuang, dan tetap optimis. Disamping itu, ada juga faktor lain yaitu kemampuan atau potensi yang harus kita asah terus menerus untuk mencapai impian kita. Kalo kita punya potensi yang besar, tapi kita engga mau gimana kita mau dapet impian kita? Sebaliknya, kalau kita mau, tapi kita engga mengasah kemampuan kita, bagai pungguk merindukan bulan, bukan? Jadi, biar keduanya seimbang, gimana sih caranya?

1. Cari ‘Role Model’
Maksudnya adalah kita mencari seseorang yang kita kagumi dan kita rasa pantas untuk dijadikan patokan, dengan begitu kita akan terus bersemangat untuk menjadi seperti ‘role model’ kita. Tapi ingat, setiap manusia engga ada yang sempurna, jadi jangan mengambil semuanya, gunakan saringanmu, ambil sisi positifnya saja, sedang yang negatif untukmu belajar agar tidak mengulang kejelekan yang dia miliki.

2. Jadi yang terbaik di bidangmu !
Engga perlu muluk-muluk pengen jadi yang paling menonjol di semua bidang, karena kalau kita terlalu berambisi di semua bidang, focus kita akan terpecah banyak dan akhirnya engga ada satupun yang berhasil kita capai. Cukup ambil satu atau beberapa bidang yang memang kita kuasai atau sukai, dan kerahkan seluruh kemampuanmu disana.

3. Tingkatin kualitas
Jangan pernah puas dengan kemampuan dan segala sesuatu yang udah kita capai, untuk itu kita butuh orang lain atau networking dimana kita bisa bekerja sama dan saling melengkapi sehingga kualitas kita makin oke !

4. Adaptasi dimana-mana
Gimana kalo kita udah punya ‘role model’, mengerahkan seluruh hati dan jiwa kita pada suatu bidang dan terus meningkatkan kualitas kita tapi belum bisa mencapai impian? Masa mesti kelaut ? Engga dong ! Eit, jangan lupa, selain 3 hal diatas, lingkungan juga berperan besar banget, dengan kta bisa beradaptasi tentu makain banyak link yang kita dapat dan mempermudah jalan menuju impian ! SEMANGAT!

Jiwa Pahlawan di Era Globalisasi




Indonesia mampu memproklamasikan kemerdekaannya berkat perjuangan para pahlawan hingga titik darah penghabisan. Beratus-ratus tahun silam ketika pihak kolonial menginjakkan kaki pertamanya di bumi Indonesia, disitulah perjuangan dan semangat bangsa Indonesia mulai diuji. Mereka juga mempekerjakan masyarakat pribumi Indonesia untuk bekerja kasar dimana keuntungannya dipakai pihak kolonial. Mereka mengeksploitasi hampir seluruh kekayaan bangsa Indonesia dan menjadikan bangsa ini sebagai boneka mereka.

Hingga muncul banyak oknum-oknum yang tidak kuasa menyaksikan penderitaan dan jerit tangis masyarakat bangsa Indonesia oleh karena perbuatan keji bangsa penjajah. Mereka melakukan perlawanan-perlawanan terhadap penjajah untuk menyelamatkan kondisi bangsa Indonesia. Dengan semangat dan keberanian yang membara, mereka tak gentar melawan bangsa penjajah. Merekalah yang disebut sebagai pahlawan bagi kemerdekaan bangsa. Jasa-jasa dan perjuangan mereka patut kita teladani dan kita hormati.

Meskipun kaum penjajah telah 64 tahun yang lalu kembali ke negara asalnya dan bangsa Indonesia telah memproklamasikan kemerdekaan dan kedaulatan bangsa, sebenarnya bangsa ini masih membutuhkan hadirnya seorang pahlawan meskipun era kolonialisme sudah berakhir yaitu pahlawan sejati yang mempersembahkan jiwa raganya untuk membebaskan bangsa ini dari keterbelakangan, kebodohan dan kemiskinan. Kini bangsa Indonesia tidak lagi dijajah seperti pada masa penjajahan silam, tapi kini dijajah oleh keterbelakangan, kebodohan dan kemiskinan. Pemberantasan keterbelakangan, kebodohan dan kemiskinan tersebut adalah kewajiban kita sebagai generasi penerus bangsa. Hal tersebut dapat diwujudnyatakan dengan cara tekun dalam menuntut ilmu dan mengembangkan bakat dan minat masing-masing.

Dengan modal pendidikan tinggi akan dapat membawa nasib bangsa Indonesia menjadi lebih baik dan menuntun bangsa Indonesia pada posisi yang setara dengan negara-negara maju, karena generasi penerusnya dapat membenahi segala aspek kehidupan bangsa. Selain itu, kaum muda juga harus mampu mengharumkan nama bangsa dengan berani berlaga di kancah internasional sesuai talenta kita masing-masing. Dengan menorehkan prestasi di kancah internasional, dapat menjadi ajang pembuktian terhadap dunia bahwa Indonesia bukanlah negara yang berada di garis kebodohan dan keterbelakangan.Kini dapat kita jumpai produk-produk luar negeri dan instansi-instansi luar negeri telah merajalela di seluruh pelosok negeri ini. Betapa sakit dan teririsnya hati kita jika melihat kenyataan ini, karena uang hasil pendapatan produk dan instansi luar negeri tersebut justru akan masuk di kas keuangan luar negeri kan? Padahal tempat produksinya di Indonesia dan para konsumennya adalah orang Indonesia sendiri lho. Kita nggak mau kan Indonesia dijajah lagi oleh negara yang lebih maju di era globalisasi ini?

Jadi, sebelum Indonesia tenggelam dalam lautan penderitaan karena dijajah oleh negera lain lagi di era globalisasi ini, kini saatnya kita untuk menyingsingkan lengan baju kita untuk senantiasa memajukan bangsa Indonesia menuju gerbang kehidupan yang lebih aman, makmur dan sejahtera. Ingatlah kawan! Perjuangan kita sebagai tunas bangsa masih terbentang luas untuk memajukan negeri ini!

Belajar Sebagai Pembekalan Bisnis



Benyamin Franklin adalah seorang tokoh legendaris Amerika yang lahir di Boston pada tanggal 17 Januari 1706. Pada masanya, ia bersama George Washington mendukung kemerdekaan Amerika. Di jamannya, Benyamin Franklin pernah mendirikan sebuah perusahaan surat kabar bernama "The Philadelphia Gazette". Apa yang membuatnya mampu berjuang untuk mencapai perusahaannya dan keberhasilannya di masa depannya? Persiapan apa yang dilakukannya pada tahap awal untuk membangun perusahaan surat kabarnya itu?

Menurut sejarah surat kabar yang bernama "The Philadelphia Gazette" merupakan surat kabar terbaik di seluruh daerah koloni (Bolton, Sarah K., "Anak Miskin Yang Jadi Masyhur 1," Penerbit PT Gramedia, Jakarta, 1983, p. 8). Namun, sebelum ia mendirikan perusahaan, ia sama sekali belum memiliki pengetahuan ataupun keahlian tata cara percetakan apalagi persuratkabaran. Tetapi ia hanya memiliki keinginan untuk mempunyai keahlian dan pengetahuan di dunia cetak-mencetak.

Untuk mendapatkan pengetahuan itu, ia belajar kepada kakaknya yang bernama James Franklin. Kakaknya seorang pengusaha penerbitan dan memiliki perusahaan bernama "The New England Courant". Namun, untuk mendapatkan pengetahuan itu, Benyamin Franklin benar-benar dituntut kesabarannya karena tidak semudah itu ia menjalaninya. Meskipun ia belajar kepada kakaknya, ia tetap menerima sikap dan perlakukan kakaknya yang keras.

Kakaknya itu berwatak keras, kasar, rewel, dan seringkali memberikan tugas yang terus-menerus dari pekerjaan yang satu ke pekerjaan yang lain. Walaupun mendapat perlakuan berat, Benyamin Franklin tetap menjalani berusaha mempelajari bisnis percetakan dari awal sampai akhir. Segala sesuatu yang berhubungan dengan keperluan percetakan ia kerjakan. Ia pergi berbelanja sendiri untuk membeli bahan-bahan yang diperlukan, menjilid, membungkus bundel-bundel cetakan, membersihkan mesin cetak, dan mencuci huruf-hurufnya.

Setelah merasa cukup belajar dan memperoleh banyak pengetahuan tentang bisnis percetakan, Benyamin Franklin pergi meninggalkan kakaknya dan di Philadelphia ia berhasil mendirikan "The Philadelphia Gazette" saat umurnya menginjak dua puluh tahunan.

Hal ini membuktikan, bahwa dunia bisnis menuntut adanya keahlian dan pengetahuan. Untuk mendapatkannya memerlukan perjuangan dan pengorbanan emosi, raga, harta, dan waktu yang tidak sedikit.

Namun, para pelaku bisnis tetap menjalaninya dengan sabar dan penuh keyakinan bahwa semua yang dilakukannya akan menjadi bekal untuk kesuksesan bisnisnya di masa depan. Sedangkan apa yang diterimanya dalam proses belajar untuk membekali pengetahuan bisnisnya tetap ia terima, meskipun mereka merasa disakiti, dihina, dan mendapatkan perlakuan kasar di tempat ia ‘belajar’ bahkan semuanya itu tidak membuatnya surut untuk mendapatkan pengetahuan yang ia cari.

Proses belajar tersebut di atas mempunyai awal dan akhirnya. Ketika pebisnis tidak memiliki keahlian, maka nilai positif yang dimunculkannya adalah tidak segan-segan untuk belajar lagi. Pada titik inilah tahap awal pembelajaran bisnis dimulai. Sedangkan batas waktunya tergantung dari seberapa cukup pengetahuan tersebut telah diperolehnya dan bisa menjadi bekal menjalankan bisnisnya di masa depan. Jika dalam benaknya sudah yakin telah memperoleh pengetahuan yang dicari dan, secara fisik, pikirannya telah menyatakan sudah mampu menjalankannya dan sudah ada gambaran strategi atau perjalanan bisnisnya untuk menuju kesuksesan, maka ia dapat berhenti dan meyakinkan dirinya untuk segera keluar dari lingkungan tempat ia memperoleh pengetahuan tersebut lalu berjuang menjalankan bisnis yang dicita-citakannya.

Seperti yang tertera dalam keterangan Sarah K. Bolton:
"...Benyamin mulai dengan periode baru. Ia harus mengubah haluan hidupnya. Tekanan yang diderita di kantor harian Courant serta perlakuan kasar kakaknya yang masih terus berlangsung itu membuatnya tidak betah dan memaksanya keluar dari pekerjaannya. Pada suatu hari ia memutuskan untuk lari ke New York. Ia cuma punya uang sedikit dan cuma berbekal pengetahuan tentang percetakan" (Sarah K. Bolton, 1983: p. 7-8).

Pernyataan di atas menunjukkan, bahwa ketika pengetahuan sudah didapat, maka pebisnis akan keluar dari lokasi mereka belajar. Hal ini dapat kita ketahui pada kalimat terakhir "...dan cuma berbekal pengetahuan tentang percetakan". Berdasarkan bukti tersebut, pebisnis, khususnya Benyamin Franklin, keluar dari tempat belajar percetakan di kantor Courant setelah memiliki pengetahuan percetakan.

Namun demikian, mereka juga membutuhkan sebuah kejadian pemicu untuk lebih memperkuat keyakinannya untuk keluar dari tempat belajarnya. Pada pengalaman Benyamin Franklin, kejadian pemicunya adalah perlakuan kakaknya yang keras kepadanya.

Berkaitan dengan kejadian pemicunya, setiap pebisnis memiliki pengalaman masing-masing yang menyebabkan setiapnya berbeda satu sama lain. Tetapi hal itu tetap memiliki persamaan, yaitu cukupnya pengetahuan yang diperoleh dan adanya kejadian pemicu untuk memperkokoh keyakinannya untuk keluar dari tempat memperoleh pengetahuan bisnis.

Ketika mereka sudah keluar dari tempat belajar, maka mereka mempunyai banyak kesempatan untuk mewujudkan bisnis baru atau mendirikan perusahaan baru yang pemimpinnya adalah dirinya, meskipun itu dilalui dengan proses kerja keras.